Mereka menatapku dengan pandangan bertanya-tanya, ada apakah gerangan dengan dirimu wahai gadis? Kau tampak tidak baik hari ini. Si gadis menarik napas berat, seolah-olah hendak menegaskan bahwa ada banyak hal yang sedang dipikirkannya. Tapi sayang, si gadis tak pernah mampu berikan penjelasan pada tatapan mata yang sedang bertanya. Si gadis diam, merekapun tak mampu mengeluarkan kata-kata. Yang ada hanya sunyi siang hari, si gadis yang duduk di seberang meja, dan mereka (gelas plastik warna hijau, Biothicol, Aspar-K, Dextamine, dan Safe Care Aromatherapy) yang sedang berbagi tempat di sudut meja.
Ini bukan kisah tentang mereka, tapi ini kisah tentang si gadis. Sang Pikir dan Sang Rasa sedang bertarung hebat dalam dirinya. Mengobrak-abrik logika dan hati nuraninya. Mempertanyakan perkara yang tak seberapa, tapi sangatlah menentukan jalan hidupnya.
Sang Pikir. Aku lebih suka menikmati duniaku sendiri. Bukannya autis dan bertindak tak peduli, aku cuma tak suka ada pikir lain yang merasuki. Kau tau, betapa tak enaknya jika urusanmu selalu dicampuri.
Sang Rasa. Aku pun tau betapa inginnya diri ini untuk berlembut hati. Membuka pintu lebar bagi mereka yang mau peduli. Tapi sungguhlah diri ini masih ragu, benarkah ini suara hati? Atau hanya nafsu yang menyembunyikan tajam belati?
Sang Pikir. Terkadang perhatian tak selamanya bisa kumaknai dengan hakiki. Kata yang lain, itu bentuk perhatian sahabat sejati. Tapi pikirku mengatakan itu hanya siksaan yang memasung diri. Bahkan yang seharusnya peduli pun tak pernah mau mengerti. Mengapa kini ada pikir yang berusaha mengintimidasi?
Sang Rasa. Berbaik sangka tak semudah yang terucap kata. Kadang hati ingin memberi, tapi tangan tak ingin tersakiti.
Si gadis. Please! Aku hanya ingin sendiri. Tolong jangan merecoki.






kita kan sedang tidak bertatapan? kenapa kau ragu tuk ungkapkan?
hahaha..
semua benda bisa jadi makhluk menakutkan, hanya di petrichor
baiklah…kalau begitu akan kukatakan sejujurnya mas Ari:
“mana pesenan wedang jaheku malam tadi?”
hahahaha…..
*cuma kejadian di dunia petrichor
Rata2 kita memang punya dua sisi pikiran dalam benak kita ya….
itu yang membuat kita terkadang sulit untuk membuat keputusan
*dilema
bahasanya tinggi nih Puch, sekali baca belum sepenuhnya kumengerti
yg kutahu gadis itu tak jauh dari aku, tak suka direcoki dan lebih suka menyendiri tapi bukan autis
hehe…sedikit bocoran nih:
gadis itu emang lagi galau, antara otak dan hatinya gak sinkron
gadis itu juga lagi badmood, ada orang yg selalu ngrecokin hidupnya
padahal dia gak suka direcokin
oo gitu ya, thank u
* .. andai ada orang yg selalu ngrecokin hidupku , emang sapa dia ? suamiku saja nggak pernah berusaha berbuat demikian
kalau aku sudah meledak deh * bom kali
sama dengan gadis itu mbak,, makanya kutulis seperti ini:
“Bahkan yang seharusnya peduli pun tak pernah mau mengerti. Mengapa kini ada pikir yang berusaha mengintimidasi?”
maksudnya, bahkan orang tua si gadis (orang yang seharusnya paling berhak menentukan masa depan si gadis) saja tidak segitunya, tapi kenapa ada orang (yang bukan siapa-siapa) malah seenaknya saja merecokin kehidupan si gadis
dan kali inipun aku kembali dibuat untuk sejenak memahami kata demi kata yang tertulis di petrichor. hemm semoga si gadis menemukan solusi terbaik dari kegalauan ini.
ada sang rasa,sang pikir, sang kodoknya mana nih? biasanya terdengar suaranya..
nah, itu dia… SOLUSI sesuatu yang hendak dicari si gadis, makanya dia gak mau sang pikir dan sang rasa saling mendominasi
keduanya harus balance, sehingga keputusan si gadis pun tak hanya sepihak didominasi otak atau hati saja
otak dan hati, keduanya harus bersinergi mencari solusi terbaik.
sang kodok lagi heboh ngorek di gedung DPR gara2 toilet tempat ia biasa bersembunyi hendak direnovasi dengan makan pajak rakyat (uhukkk)
salam untuk si gadis ya
oke mbak, salamnya disampaikan