Petrichor’s Dream

: I begin my days with a simple dream. Many has laughed at me and my dreams. I know some are silly, but there are nothing to be laughed… If my dreams have brought me to the top of the world. At least one of them.

(Fujinomiya no Toori – Mount Fuji, Japan, 06.14 AM, August 10th, 2008, Danang AP)

Siang ini Jogja demikian panas, jejak tapak-tapak hujan tadi sudah tak bersisa digilas tajamnya tatap mata mentari. Aku yang kelelahan sepulang kerja melemparkan tas ke atas tempat tidur, beranjak ke kran air di belakang. Subhanallah, luar biasa segarnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Usai membersihkan diri, aku tertegun sejenak menatap dinding kamar kos. Ada stirofoam lebar yang kubungkus kertas kado motif batik tertempel rapih di sana. Tulisan “Puch” di pojok kiri atas, di bawahnya ada foto ukuran 2×3 berjejer sebanyak 6 buah, menyusul kemudian dua buah pin bertuliskan KPK Aku Bukan Koruptor dan KSAI Al Uswah. Di sebelahnya membentang kertas kuning panjang berisi daftar menu Waroeng Spesial Sambal. Bagian tengah ada nama-nama dan contact person kontributor & redaksi  Fimadani. Pojok kanan atas ada sertifikat Laskar Dakwah Kampus dari FORSALAMM UGM yang kusematkan pita warna coklat di sudutnya.

Ujung dinding sebelah barat masih lekat selembar kertas HVS bertuliskan Target Ramadhan, di bawahnya ada sekumpulan galaksi. Paling atas ada awan bertuliskan “Petrichor” dengan pita rajutan warna coklat dan bunga mawar putih. Selanjutnya, awan itu dikelilingi oleh sejumlah konstelasi bintang berwarna-warni. Setiap bintang punya nama dan ada tulisan di sana. Mungkin saja ada namamu. Ya, aku terbiasa menuliskan kata-kata yang (mungkin) tak sengaja kau ucapkan, namun membekas di hatiku.  Pada bintang itu ada patahan-patahan kata bernama nasihat, juga ada sepenggal penyemangat, tak luput pula sindiran menyengat. Bukan maksudku untuk mengenang semua kejahatan kata-katamu, tapi tulisan itu kubuat sebagai motivator. Bisa jadi apa yang kau katakan itu benar, hanya saja aku tak sadar. Maka bintang itu ada untuk senantiasa mengingatkan.

Ah, jangan dulu menertawakanku yang kekanak-kanakan. Kenapa dinding kamar penuh dengan kerlip bintang. Andai bintang-bintang ini mampu mengubah hidupku, kudoakan untukmu, semoga nama-nama yang tertulis di sana mendapatkan pahala dari Allah, atas ketidaksengajaannya mengucapkan kata-kata itu. Atau setidaknya, aku akan selalu mengingat bahwa kau pernah menjadi bagian dari hidupku.

Paling bawah, dekat dengan tempat tidurku, tiga kertas HVS juga berderet manis dikelilingi rajutan benang warna coklat (lagi). Di sanalah tertulis 100 mimpiku. Ah, pasti kau sudah tau, aku demikian terinspirasi dengan video motivasinya Danang AP, maka dulu kutuliskanlah mimpi- mimpi itu.

Aku tersenyum, mendekat, menelusuri satu per satu nomor yang ada di sana. Menghitung. 19. Ya, baru 19 nomor yang berhasil kucoret dengan tinta. Masih banyak yang harus kutunaikan, masih banyak yang harus kuperjuangkan, masih banyak yang harus kukejar. Buru-buru kuambil pensil di kotak ajaib, kutandai dengan titik di depan nomor yang kutargetkan bisa kutakhlukkan dua bulan ke depan. No 9, no 20, no 55, dan no 88 insyaAllah akan selesai dalam dua bulan. Doakan aku, Kawan.

Itulah mimpi-mimpiku, yang sudah, sedang, dan belum kuraih. Tapi aku yakin, betapapun tingginya, betapapun bodohnya, betapapun sulitnya, suatu saat nanti hanya akan ada coretan-coretan penanda bahwa ia telah berhasil kugenggam. Saat ini aku sedang berada di anak tangga, melangkah pasti satu per satu, menuju ke sana. Ke seratus mimpiku. Mungkin lebih. Bukankah Allah mencintai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh?

Seindah-indahnya rencana kita, masih jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.

Shofuro, mengenang satu janji di sudut sepi

*kalau diperhatikan, setiap pernak pernik itu dominan warna coklat ya? ^^

12 Comments

Filed under kontemplasi

12 Responses to Petrichor’s Dream

  1. sumpah pengen nangis bc ini :”)
    betapa 100 mimpi itu sangaaaat berarti,,
    tak layakkah aku jika sebagian hatiku patah ketika tak kujumpai mimpi itu dalam nyata?? *mengenang sedih kertas 100 mimpi ku yag sekarang tak berdaya di dlm kardus

    • ow…..turut berduka cita dengan kertas 100 mimpimu yg sedang meringkuk di dalam kardus

      ayolah, tak ada kata terlambat untuk tetap bermimpi
      keluarkan segera ia, agak tak kehabisan oksigen di dalam kardus

      bagiku, mimpi adalah kenyataan bahwa ada yang harus kulakukan dalam hidup ini. ini menandakan bahwa Allah memang punya tujuan dalam menciptakan setiap kita

      ingin menjadi seperti apa kita?
      jawabannya ada pada diri kita sendiri

      • kadang otak bawah sadarku mengatakan : semua mimpi mu harus di-restart lagi ….
        mencoret mimpi :bukan karna terpenuhi ,tapi karna gagal :(

        tiba2 langsung andy lau : antara dylema dan galau :D

        #np Ling- Ke You Lun

      • hehehe….oke deh!
        restart aja klo emang perlu,,
        yang paling penting jangan berhenti berharap lah (SO7 banget) :D

  2. Seratus mimpi? 8O Banyak ya. :D
    Semoga berhasil. ;)

  3. puch, gimana caranya pasang kotak berisi link temen-temen?

  4. semoga 100 mimpi yang tertulis di 3 kertas HVS itu bisa segera tercapai..
    dan jika sudah tercapai maka bersegeralah kau tulis 1000 mimpi berikutnya…
    karena dengan mimpi itu, maka terjulurlah tali yang akan membantu menarikmu dari lembah keputusasaan menuju bukit harapan.

  5. jadi membayangkan berada di kamarmu dan melihat daftar mimpi itu ….

    akhir akhir ini aku suka memandangi bintang di langit , apalagi kalau pas acara bersepedaan malam hari, krn maghribnya masih awal, maka setiap suamiku pulang kerja sudah gelap, jadi bersepedanya sambil menghitung bintang :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s