Inspirasi itu suka datang tiba-tiba, tanpa peduli tempat, juga tak pandai memilih waktu yang tepat. Namun, jika tak segera kau tangkap, ia akan pergi serta merta, sama misteriusnya dengan kedatangannya.
Perjalanan Pulang kemarin memberikan sebuah inspirasi, entah darimana asal usulnya, tiba-tiba saja aku kepikiran dengan satu kata. Move! Ah, apa pula ini? Kalau menurut kamus Indonesia – Inggris ku yang bersampul biru, ‘move’ bisa diartikan ‘berpindah’. Memikirkan kata itu membuatku ingat pada sebuah buku kecil dengan cover dominan putih, bagian tengah tertulis “Move!” sebagai judulnya, tercetak dengan warna biru. Di bawahnya terdapat sebuah kalimat “Jadilah muslim progresif!” Wah, ini bukan sebuah kebetulan. Ini keajaiban.
Saat aku sedang kalut dengan segala permasalahan rumah, pikiran rumit bak benang kusut gara-gara skripsi yang menjelma jadi hantu gentayangan, juga bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin kujawab, secara misterius Dia memberiku sebuah petunjuk dalam bentuk inspirasi. Satu kata: Move!
Ingatkah kau awal mula Islam datang? Satu demi satu manusia di sekitar Rasulullah berubah. Mereka mengalami proses rekonstruksi visi dan pandangan hidup, memunculkan tokoh-tokoh pemikir layaknya Ali bin Abi Thalib, pemimpin negara layaknya Umar bin Khattab, entrepreneur ulung layaknya Abu Bakar dan Utsman bin Affan, juga ahli bahasa layaknya Zaid bin Tsabit. Mereka laksana rahib di malam hari dan penunggang kuda di siang hari. Mereka mampu melejitkan potensi yang ada dalam diri mereka sendiri serta menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan yang mereka miliki.
Yap, itu dia. Melejitkan potensi, kunci dari satu kata yang kupikirkan tadi, Move! Ah, ide ini laksana guyuran air di tengah terik panas udara Jogja siang tadi. Tanpa perlu dikomando lagi, otakku bak mesin giling yang baru saja dikasih oli, kembali bergerak tanpa hambatan, melahirkan ide-ide brilian berikutnya. Aku sampai kewalahan menampung keseluruhannya dalam lobus-lobus otakku. Sebentar….sebentar….jangan sampai ide itu tumpah ruah tak bermakna. Maka jemari ini harus segera bekerja, menuliskan setiap lintasan cahaya yang muncul tak terduga.
Pertama dan utama adalah memuhasabahi diri. Bagaimana ibadahmu? Target tilawah tiap harinya, sudahkah tercapai? Juga membaca dan memahami tafsirnya? Bagaimana dengan sholat tahajudmu? Apa kabar doa-doa dan dzikir yang kau panjatkan? Dan terakhir, sudahkah kau jauhi kemaksiatan? Arrgh…rapor merah sudah di tangan. Kalau begitu segeralah bangkit dan perbaiki!
Kedua, sadarlah akan blokade mental. Ibarat sebuah talang, jika air tidak mengalir selancar yang seharusnya, kemungkinan yang terjadi adalah there is something technically or strategically wrong. Pertanyaannya adalah bentuk blokade seperti apakah yang menghambat kehidupan kita?
Ketiga, solusi dan aksi. Ya, tunggu apa lagi? Muhasabahi diri sendiri, carilah bagian-bagian yang menghambat, pikirkan solusi, dan beranilah memulai aksi.
Apapun yang dapat kau lakukan atau ingin kau lakukan, mulailah. Keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya.
Move! Masa depan ada di tanganmu, bukan di tangan nasib. Belajarlah memahami konsep takdir dengan benar. Ingatlah bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum jika ia tak mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
dlm perjalanan Kulonprogo-Jogja






bergerak maju yang membawa perubahan dan inspirasi baru…
semoga berubah menjadi lebih baik ya
Target tilawah,,wah ini dia yg sangat 2 jarang di kehidupan sekarang ini,,,mengajak tuk kebaikan emng berat,,,terkadang hanya di anggap angin lalu…..btw lagu background nya keren
kewajiban kita cuma mengajak dan senantiasa mengajak Pak,
perkara yang diajak mau atau nggak itu udah urusannya sama Allah
Melejitkan Potensi dengan Semanggiiii…. i like this
semanggi? apaan tuh mbak?
apakah sejenis rumput yang setangkai berdaun 3?
Semanggi alias semangat tinggiii
oh, kirain semanggi temennya si gulma
kuereeen,.. tulisan mbak puch emang maknyuss.. suka banget dengan postingan ini. Membuatku bergerak …move… halah ..he he..
ngomong2 ini nulisnya dalam perjalanan?
hahaha…gak usah berlebihan pak, sebenernya tulisan ini belum mateng, esensinya kurang ‘dapet’ (menurutku)….
tapi udah gak sabar buru2 kuposting
nulisnya sih di kos, tapi ide tulisannya kupikirkan selama perjalanan
(mana bisa saya naik motor sambil ngetik?!)
lov it :3
hihihihi…..ketahuan tetangga kamar deh
Ah jadi penasaran dengan kata muslim progresif itu. Jadi seperti apa tuh?
ada bukunya mbak, mau pinjem??
eh, ada review atau link covernya dari google? belum nemu euy.
btw, judul lagunya apa sih yang di denting hujan?
jelas gak bakal nemu, itu buku khusus beredar di UGM aja mbak, yang bikin juga anak UGM hehehe…
denting hujan judulnya Hana No Na
Haah? begitu yah ternyata. terus gimana saya bisa baca bukunya? hehe