Pulang

Genap 3 minggu aku tak pulang ke kampung pesisir. Sibuk? Ah, tidak. Aku hanya malas pulang ke rumah. Terlanjur terbuai kenyamanan kota.

Kala itu hapeku berderit lirih.

mb pye kbrmu… apek” wae to…pilek.e mari urung?

Sms dari adekku. Merasa ada yang ganjil? Mungkin bagimu tidak, tapi bagiku, itu sms yang tak biasa. Ah, andai aku tau waktu itu….

Satu senja lalu, baru kumantapkan hati untuk pulang. Ya, aku kembali ke kampung pesisir, kembali pada mereka yang merindukanku. Satu jam sebelumnya kusempatkan untuk mengirim sms pada adekku.

Aku pulang. Sekarang sedang makan di SS.

Lihat! Tak ada yang berbeda dengan rumah ini. Selalu ramah menyambut kepulanganku. Tapi ada yang berbeda. Sungguh, aku merasakannya. Namun tak sampai hati untuk menanyakannya. Esok hari mungkin lebih tepat.

Ibu datang dengan sebakul nasi, semangkok sayur daun singkong, dan telur asin kesukaanku. Sayang, aku baru saja selesai makan. Maka berbaliklah ibu kembali ke dapur, makan berdua bersama Embah.

***

Esok paginya, Embah minta diantarkan ke pasar, sekalian periksa ke puskesmas. Ia mengeluh, sekarang sudah tak sanggup naik sepeda lagi, kalau ke pasar harus jalan kaki, apalagi badan renta itu semakin sering merasa ngilu. Sungguh, kau benar-benar sudah sepuh, Mbah.

Aku tak menduga, jika perjalanan ke pasar itu akan menjawab pertanyaanku tentang keganjilan yang kurasakan tadi malam. Hati-hati kutanyakan pada Embah, kenapa adekku ke sekolah jalan kaki.

Embah tersenyum, lalu mengambil janji agar aku diam saja dan pura-pura tak tau. Dan cerita itu mengalirlah….

“Minggu lalu adekmu kecelakaan. Ketabrak mobil. Motornya ringsek, adekmu pun tak sadarkan diri berhari-hari. Ia sembunyikan motornya, agar kau tak sampai lihat. Ia takut kau marahi karena tak berhati-hati.”

Oh….bahkan ia mengalami hal itu pun tak mengabarkannya padaku?

***

Menjelang keberangkatanku kembali ke Jogja. Ibu sibuk menata dagangannya, sementara aku sibuk memasukkan barang-barang yang hendak kubawa.

“Kemarin sore, tau kau mau pulang, Embah buru-buru memasak nasi lebih dari biasanya. Ia masak sayur dan beli telur asin kesukaanmu. Usai masak tak langsung dimakan. Embahmu bilang:

Aku arep ngenteni putuku nek wis mlumpuk le mangan.

Eh, ternyata kau sudah terlanjur kenyang. Tak kau sentuh masakan Embahmu. Betapa dia kecewa malam itu.”

Oh….betapa tak pekanya diriku, saat Ibu menawarkan makan malam itu, ternyata semua sudah dipersiapkan Embah sejak sore harinya. Ia rela tak makan duluan demi menungguku datang. Tapi apa balasanku? Aku bilang:

“Sudah kenyang. Tadi baru saja makan.”

***

Kutarik tangan keriput itu. Kutundukkan mukaku, takzim mencium tangannya sambil berucap pamit hendak kembali ke Jogja.

Ia tersenyum. Bertanya apakah aku butuh uang saku? Aku menggeleng. Maka, ia pun menasehatiku, jikalau aku tak punya uang segeralah pulang. Hmm….Embahku memang luar biasa.

“Pulang nduk… Ibumu selalu merindukanmu. Sudah berhari-hari ia berharap kau pulang. Tapi tak ada secuil kabar pun darimu bahwa kau hendak pulang.”

Oh… Jadi karena itu, setiap tetangga yang datang ke rumahku selalu bilang, “Lah, anak wedok sing diarep-arep wis teko.”

-End-

Aku malu, Tuhan. Malu pada diri sendiri, terlebih pada-Mu. Begitu egoisnya diriku, bahkan jarak perjalanan satu jam saja Jogja-Kulonprogo membuatku enggan untuk pulang menjemput rindu.

Aku sangat malu, Tuhan. Saat ia terbaring sakit, adekku masih sempat menanyakan kabarku. Tapi aku bahkan tak tau menahu jika ia berhari-hari tidur di rumah sakit. Memang tak sepenuhnya salahku, karena toh tak ada seorangpun yang menyampaikan kabar itu padaku. Tapi apa susahnya Puch? Apa susahnya balik bertanya:

“Bagaimana denganmu, Dek? Baik-baik sajakah?”

Aku malu, Tuhan. Sungguh sangat malu. Masih saja tak peka dengan ungkapan cinta seorang Embah pada cucunya. Betapa ia menantiku dengan segenap hatinya, mengkhawatirkan diriku yang pulang kemaleman, menyiapkan hidangan kesukaanku. Tapi apa balasanku? Ah, bodoh kau Puch!

Aku benar-benar malu, Tuhan. Sangat. Dalam diamnya, Ibu selalu menantikan kepulanganku. Tidak. Dia tak hendak menanyakan kabar skripsiku, juga tak hendak mengusik tentang kapan rencana menikahku. Dia hanya ingin melihat diriku. Itu saja.

Ahhhhh….. Aku malu. Begitu banyak orang yang mencintaimu. Tentu dengan cara mereka sendiri, dengan diam ataupun dengan ekspresi. Tapi bagaimana denganmu, Puch? Kau tak pernah sadar. Dan tetap tak peduli.

Ya Allah, ampunilah dosaku. Adek, Embah, dan Ibu…… Maafkanlah aku.

-malam ini untuk muhasabah-

gambar dari sini

16 Comments

Filed under it's called love, kontemplasi

16 Responses to Pulang

  1. Hikss…. Saya jadi sedih…. :(
    Semoga ke depan hal-hal yg tdk mengenakkan ini nggak terjadi lagi, ya….

    Oh iya, kalau saya mudik sekitar seminggu sekali dari Jogja. Bukan di pesisir tapi, melainkan di lereng gunung sebelah utara, hehe….

    • iya mas, aku juga heran, dari dulu kok gak peka sama orang lain
      itu sama keluarga sendiri, belum sama temen2, mungkin banyak juga yang merasa sakit hati gara-gara aku yang gak peka dan gak peduli
      (ho…maafkan aku Teman)

      wah, tetangganya mbak Phie ya? lereng Merapi?

  2. berkaca, TT

    betapa ibu, bapak, mbah, dan org2 rumah “sangat mengerti” betapa egoisnya aku

  3. ketemu dengan orang-orang yang kita cinta memang memberikan nuansa tersendiri di dalam hati. Seperti aku yang setiap 2 minggu sekali pulang ke magetan untuk ketemu keluarga (istri, ibu, bapak, kakak, keponakan, mbah).. hemm apalagi ketika ngobrol ngalor ngidul dengan mereka.

    semoga di kesempatan yang lain mbak puch bisa menikmati masakan mbah…, nek perlu imbuh rong piring..

    • setuju pak Fin,,
      ah, saya jadi malu (lagi)
      pak Fifin aja yang jaraknya jauh plus orang sibuk menyempatkan 2 minggu sekali untuk pulang

      habis makan 2 piring, kasih pujian ke mbah ya:
      “masakan embah paling enak sedunia” :D

  4. **terharu….

    begitulah kenyataannya manusia jaman sekarang, dipaksa terlalu sibuk dengan simpati dan im3, tapi minim empati.

    cubitan kecil buat diri, termasuk saya :)

  5. Pingback: Move! « The Petrichor

  6. tulisannya menyentuh banget Puch …. ´pernah mendengar cerita hampir serupa dari saudaraku … kamu beruntung sekali masih dikelilingi oleh orang orang yg begitu mencintaimu, karena nggak semua orang bisa mendapatkan cinta tuluus dari keluarganya sendiri sehingga harus mencari cinta ke orang lain yg bisa memberikannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s