Terinspirasi dari tulisannya mbak Laila dalam [Diary Fauzan] yang penuh cerita seru seputar latihan puasanya si kecil, aku pun jadi pengin segera punya anak (eh, pengin nulis tentang latihan puasa buat anak)
Kemarin sempat bongkar-bongkar file kajian, alhamdulillah ketemu rekaman kajiannya ustadzah Nunung Bintari yang membahas mengenai parenting ‘Urgensi Menanamkan Pengertian Ibadah Puasa Sejak Dini Kepada Anak’. Hmm…penting nih buat ibu-ibu dan para calon ibu
Berikut ringkasan yang kubuat, silakan dibaca bagi yang merasa perlu tau….
Ibadah puasa merupakan salah satu rukun Islam, bisa disejajarkan dengan sholat. Tapi karena puasa lebih melibatkan fisik, terkadang para orang tua lalai untuk mengajarkan puasa kepada anak-anaknya sejak dini dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan anak masih perlu gizi, sampai menyepelekan bahwa puasa adalah amalan bagi mereka yang sudah baligh. Ya benar sih, tapi segala sesuatunya gak bisa instant, maka anak pun perlu diberikan ‘latihan’ berpuasa.
“Didiklah anak sesuai zamannya, jangan pakai cara lama.”
Anak zaman sekarang lebih cepat baligh, entah karena kebutuhan gizi yang terpenuhi atau kondisi lingkungan yang memaksanya untuk cepat dewasa. Kalau dulu anak perempuan pertama menstruasi itu kelas 2 SMP, anak sekarang kelas 3 SD pun kadang sudah mulai menstruasi. Inilah kenapa kemudian melatih anak untuk berpuasa sejak dini menjadi penting. Tapi juga tidak menafikan kondisi fisik dari anak tersebut, sekiranya memang belum mampu atau sering sakit-sakitan ya jangan dipaksa buat latihan puasa.
Dalam sebuah hadits Bukhari Muslim dikatakan bahwa: “Maka kami pun berpuasa dan juga memerintahkan anak-anak kami untuk turut melakukannya. Kemudian kami mengajak anak-anak ke masjid dan membuat permainan dari bulu atau tanah agar anak-anak terhibur dan tidak memikirkan puasanya. Dan apabila salah satu di antaranya menangis karena lapar, kami memberikannya permainan hingga waktu berbuka.”
Juga ditegaskan oleh Sayyid Qutb mengenai puasa yang merupakan persiapan untuk membiasakan jiwa memikul rintangan perjalanan hidup, memantapkan aqidah yang kokoh dan teguh, serta menghubungkan manusia dengan Allah berupa kepatuhan dan ketaatan.
Menurut ustadzah Nunung, disebutkan tentang kaidah-kaidah melatih anak berpuasa:
Latihan shoum tidak mengabaikan fakta bahwa kebutuhan akan gizi dan tidur itu akan tinggi.
Dalam hal ini orang tua harus pandai dalam menyiasati menu buka dan sahur buat anak. Jangan sampai ketika latihan puasa, asupan gizi anak menjadi terabaikan.
Pahamilah bahwa kegiatan ini adalah pelatihan, pengkondisian, pembiasaan, dan penyiapan agar anak-anak akrab dengan aktivitas ibadah puasa.
Latihan puasa ini bukan sesuatu yang final, makanya harus menyesuaikan kondisi tubuh anak-anak. Jangan saklek bahwa anak harus bisa puasa seharian. Yah, namanya juga latihan kan ya harus pelan-pelan. Ibaratnya menarik seutas rambut dari tepung tanpa merusaknya. Harus pelaaaannn sekali…. lembuutt sekali…. biar anak dalam menjalankan puasa itu masuk ke hati, bukan sekedar takut dimarahi ibunya.
Sebaiknya pelatihan ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Misalnya jika waktu sahur kan biasanya anak-anak susah dibangunkan. Dalam hal ini orang tua harus bijak, jangan sampai berkata, “Ah, gak papa. Sekarang bisa bangun sahur, besoknya enggak gak papa. Masih latihan juga.” Nah, ini contoh yang salah. Meskipun cuma latihan tetap harus dibiasakan agar anak berdisiplin. Kalau waktunya sahur ya dibangunin, pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya mereka pun terbiasa bangun tanpa susah-susah lagi. Ada banyak cara buat bangunin si kecil tanpa menimbulkan keributan (apalagi nangis), ah soal ini bapak-bapak dan ibu-ibu lebih tau
Prioritaskan kegiatan pelatihan ini daripada kegiatan yang lain.
Ini penting buat diketahui para ibu, harus punya waktu khusus dengan anak-anaknya. Bahkan wanita Jepang ya, kalau mereka sedang hamil, mereka anak mengumumkan di kantor dan berhenti bekerja untuk sementara waktu. Mereka akan bekerja lagi setelah anaknya berusia 2 tahun. Di sana bahkan ada upacara pelepasan bagi ibu-ibu muda yang berhenti bekerja karena sedang menyelesaikan ‘proyek besar’ mendidik dan membesarkan anak. Luar biasa ya, mereka yang notabene tidak beragama Islam justru lebih bisa mengamalkan ajaran Islam. Bandingkan dengan wanita Indonesia yang masih saja bela-belain karir daripada ngurus rumah tangga. *ups*
Trus gimana dong kiat-kiatnya? Biar gak sekedar teori, akan kutuliskan beberapa kiat latihan puasa buat anak. Tapi berhubung beberapa menit lagi Jogja udah waktunya buka, dipending dulu kali ya…. Nanti dilanjut lagi di bagian kedua.
Selamat Berbuka Puasa
-bersambung-
lanjutannya ada di sini



Yakin deh, tulisan yang dicoret keluar dari lubuk hati
gak kok…
gak salah maksudnya
wah.. ini penting sekali, walaupun aku sendiri belum punya anak… hehehhehe
buat bekal nanti mas
[...] aja deh kultwitnya Akh. Salim A. Fillah di sini. Jadi, kuputuskan untuk menuliskan kelanjutan dari tulisan yang ini saja, semoga aku masih [...]