Seminggu yang lalu, aku didaulat sang murobbi buat bikin trancam untuk acara buka bareng yang diselenggarakan sore ini. Pertama kali denger kata ‘trancam’, aku langsung ingat irisan mentimun dan kelapa parut yang pernah ibu bikin waktu aku masih kecil dulu. Gak tau kenapa, tanpa panjang pikir aku langsung mengiyakan perintah beliau.
Hmm, trancam. Aku tidak tahu persis apa bahan dan bumbunya. Rasa-rasanya ke-pede-an tadi asal bilang ‘iya’ aja. Malam harinya kusempatkan untuk bertanya ke mbah Google dan wow! Ternyata banyak sekali resep trancam, ada trancam khas Jateng, trancam Solo, dll. Tapi gak ada trancam Jogja
Entah karena gak yakin atau justru kebanyakan pilihan resep, akhirnya aku sms sang ibu tercinta via adek, “Dek, tolong tanyain ibu, bumbu trancam apa aja ya?” Dan gara-gara si adek kehabisan pulsa, maka jawabnya pun perlu waktu dua hari pasca aku sms. Huh!
Setelah mantap dengan bahan-bahan dan resepnya, berburulah aku ke pasar tradisional. Lagi-lagi sifat jahilku muncul, melakukan improvisasi terhadap resep yang sudah ada. Ini nih daftar resep yang sudah kuobrak-abrik sekehendak sendiri
:
Bahan-bahan:
4 buah mentimun ukuran sedang
¼ ikat kacang panjang, pilih yang masih muda
beberapa tangkai daun kemangi
tauge menurut selera
Bumbu:
½ butir kelapa, yang setengah tua
2 siung bawang putih, ukuran sedang
1 butir kencur, ukuran sedang
3 cabai rawit merah, ukuran besar
1 sdt garam
½ butir gula merah
Nah, udah kelihatan kan di sini ada bahan-bahan serta bumbu yang sengaja kutiadakan atau kuubah ukurannya. Karena aku gak suka makan tauge mentah, jadi belinya gak sesuai resep, cuman dikit aja asal ada taugenya. Hehe… Trus bumbu seharusnya pakai terasi dan daun jeruk purut, tapi karena tidak semua orang suka bau terasi dan daun jeruk, maka kedua bumbu itu kutiadakan. Dilarang protes ya, ini demi kenyamanan bersama.
Cara bikinnya:
- Cuci bersih semua bahan.
- Kupas mentimun, buang bijinya, lalu daging buahnya dipotong dadu kecil-kecil aja.
- Kacang panjang buang kedua bagian ujungnya, diiris tipis-tipis.
- Daun kemangi, ambil daunnya saja. Oya, hati-hati memperlakukan daun kemangi agar warnanya tetap hijau cerah dan tidak berubah jadi hitam. Letakkan terpisah dari sayuran yang lain.
- Tauge siangi dan campur dengan potongan mentimun serta kacang panjang.
- Kelapa hilangkan bagian kulit arinya (yang berwarna coklat), parut arah vertikal. Tujuannya biar estetikanya dapet, parutannya putih bersih dan ukurannya agar panjang-panjang.
- Masukkan kelapa parut ke dalam plastik bening, beri lubang kecil-kecil menggunakan garpu, lalu kukus selama 15 menit.
- Kupas bawang putih, kencur, dan haluskan bersama cabai rawit serta garam. Setelah itu tambahan gula merah hingga menjadi bumbu lengket mirip bumbu rujak.
- Campurkan kelapa kukus ke dalam bumbu. Baru kemudian tuangkan parutan kelapa yang sudah bercampur bumbu dengan sayur-sayuran.
- Terakhir taburkan daun kemangi di atasnya. Tau kenapa kemanginya sengaja kutaburkan di atas? Soalnya kalau dicampur warnanya akan berubah menghitam.
- Setelah itu taruh ke dalam piring saji dan tarrrra…. Trancam buatan Puji pun jadi! Entah gimana rasanya?!
Setelah semuanya siap, aku pun segera meluncur ke TKP dengan perasaan was-was. Takut trancam buatanku gak enak rasanya atau malah bikin keracunan *ups*. Jelas lah aku takut, ini pertama kalinya aku bikin trancam dan akan dihidangkan pada orang lain pula. Aaaaahhhhh, semakin nervous!
Alangkah bahagianya ketika saat berbuka tiba. Mereka bilang, “Hmm, enak Puch trancamnya.” Ah, sampai sini belum begitu yakin. Kupikir mereka hanya ingin menyenangkan hatiku. Tapi, aku jadi tambah yakin ketika berulang kali sang murobbi pun berkomentar, “Wah, trancam buatannya Puji mantap!” Kalimat itu terdengar sangat menyenangkan dan tak sengaja aku melihat beliau menawarkan trancam itu ke suami beliau.
“Bi.. Abi.. trancam nih. Seger loh….”
Hahaha, barulah sekarang aku bisa bernapas lega. Meskipun gak sesuai resep dan hasil eksperimen pertama, ternyata tidak mengecewakan. Yes!
Pelajaran penting:
Masaklah dengan hati penuh cinta, niscaya apapun masakannya akan terasa enak. Jangan sambil menggerutu apalagi sambil marah-marah masaknya, ntar makanannya ngambek dan jadinya gak enak deh…
<– kesimpulan ngaco
NB: Gak sempet ngambil gambar trancam buatanku, maklum gak punya camdig dan hape pun jadul, gak ada kameranya. Mohon maaf, gambar yang di atas hanya ilustrasi saja. Ya mirip-mirip kayak gitulah penampakannya.



kata spongebob juga masaklah dengan cinta.
kayaknya seger banget itu jadinya. *ngebayangin* saladnya indonesia buatan mbak puji.
wah, spongebob mah jago masak… pinter bikin crabby patty
jangan dibayangin, ntar ngiler hehe
namanya keren ya Puch , baru denger aku
hampir samakah dengan urap sayur ?
bumbunya sama mbak, tapi kalau urap sayurannya direbus dulu sedangkan kalau trancam sayurannya mentah
Gak ada tempe bakarnya ne mbak.., coba deh pasti mantabs..
Eh.., ne mbaknya ada DI SINI dan DI SINI juga tah..???
iya, gak pake’ tempe soalnya lagi krisis tempenya
betul, itu akun kompasiana saya
kirain tadi terancam
, ternyata nama makanan “trancam” ya…
iya, saya terancam bayar SPP lagi semester ini
#gaknyambung
nah kalau ini mah curcol
wow, ketahuan deh gue curcol…
batal…karena udah nyolong..tuh curcol = curhat colongan…
nyolong tidak membatalkan puasa mas, tapi itu dosa
tapi mengurangi pahala tidak?
gak tau, pahala itu urusan Allah mas
hehe..
sepakat
makanan ini nih, yang sering saya cari saat buka puasa. SUEDEP rasanya.:D
bikin sendiri saja mas
Wah, ini dia cara mempujilestarikan makanan tradisional yang trancam punah
haha… tapi sudah gak orisinil karena si juru masak suka berbuat seenaknya tanpa memperhatikan resep nenek moyang
ini makanan yang paling berbahaya
ada yang lebih berbahaya bu’ –> oseng2 mercon
trancam itu semacam urap gituh? baru denger nama makanan itu?
uwowo.. kiraiiin yg digambar bikinannya ;d
betul Teh, tapi sayurannya mentah
hehe gak punya kamera buat dokumentasi
semoga bulan depan deh bisa beli kamera
Trancam yang ini sepertinya sedap. Nah, kalo cabenya kebanyakan, barulah perut jadi terancam. Hehe..
ow, tidak
cabenya dibikin ganjil mbak, trus salah satunya diuleg sama tangkainya, dijamin perut gak bakal mules biarpun cabenya banyak
(kata si ibu penjual lotek di Selokan Mataram)
waaahh,, trancam ndak icip nih saya
mirip urap, ndak sih?
gak boleh icip sebelum buka puasa
iya mirip, hanya saja sayurannya dibikin mentah
Kalau lihat fotonya, sekilas seperti plecing kangkung khas Lombok..
plencing kangkung? wah, sepertinya saya pernah makan
yang super pedas itu kah mbak?
Hampir saja saya mau protes penulisan judul. Kirain “Terancam”. Huftt…
maaf, protes ditolak
trancam, tambah daging ikan enak kali ya…
betul, ini memang pasangannya ikan goreng, sambel kecap, dan acar
hmmm…. maknyusss
trancam? waaaahhhh hati hati banyak penodongan dan penjambretan sekarang….:) ups nggak nyambung ya…ternyata nama makanan toh hehehehe
ingat, kejahatan terjadi karena ada kesempatan #loh OOT
namanya Trancam… kaya sejenis binatang langka yang sulit berkembang biak
*trancam punah*
ah, om guru bisa aja
yang ini juga trancam punah kalau gak ada yang melestarikan
makanya, saya belajar masak buat melestarikannya
Nah, ibuku sering buat ini, dan i LIKE,
oh, kirain kamu sukanya sate susu sapi
wah udah cocok jd chef t mbah.. memasak dengan cinta..
perempuan, wajib bisa masak
hmmm,
udah lama gk makan trancam…
jadi kangen pingin pulang rumah…
ayo pulang mas
aduuuuuhh…
tunggu dulu, seminggu lagi lah…
puch yogjo?
injih mas, kulo tiyang Jogja
waaah,, kudu boso dong?
iyo mas, boso krama alus yo…
oh.. injih mbak, tapi sepuntene geh, menawi jawi kulo tasek rodok2 ngoko…
oh, mboten dados menapa mas
kulo injih nembe sinau boso krama alus niki…
tiyang jawi nanging dereng lancar ngginakaken krama alus
hmmm….
lek ngenten niki, kulo mboten saget kakean cangkem mbak… heheee
nggih sampun, kita pungkasi kemawon…
ihjih mbak puch…
seger ik, trancam
iya mbak, cobain gih