Aku di sini sendiri, mengunyah rindu, malu-malu. Tak terucapkan lagi rindu yang kumiliki, rindu itu sudah kukunyah pelan-pelan bersama angin yang berada di sekelilingku. Duduk sendiri disini, di tengah ramainya orang yang tak berhenti berbicara membuat hatiku semakin kempis. Aku kesepian.
Aku di sini sendiri, mengunyah rindu, malu-malu. Tak tertahankan lagi rindu yang kini membuncah, hati dan benakku sebentar lagi akan meledak, tak kuhiraukan lagi semua orang yang berada di sekelilingku. Hanya aku dan rinduku. Hanya aku dan sisa cintaku. Duduk sendiri disini, memandang jauh jalanan yang tak terlihat lagi ujungnya. Gemerlap lampu jalanan mengisi seluruh pandanganku. Terlihat begitu manis, penuh warna, namun tak bertahan lama. Aku kembali lagi berkawan sepi.
Aku di sini, mengunyah rindu, malu-malu. Lagi-lagi gemerlap lampu jalanan itu menggodaku. Kupalingkan wajah, tak ingin menatapnya. Tapi bayangan itu kembali berkelebat di otakku. Begitu manis, penuh warna, namun tak bertahan lama. Bukankah itu seperti kisah kita?
Aku di sini sendiri, mengunyah rindu, malu-malu. Tak terbayangkan lagi wajah ia yang kurindu. Kerap kutukar seluruh rasa bahagiaku dengan bayangan dirinya. Namun semesta mementahkan lagi harapku. Aku tak bisa lagi mengingat raut muka manisnya. Aku hanya bisa menyimpan luka. Pahit rasanya berjalan sendiri. Meski beralas kaki. Di jalan dengan senja yang berwarna keemasan. Aku tak lagi bisa merasa bahagia. Rasanya hampa. Aku tak lagi bisa bersahabat dengan keramaian, lagi dan lagi aku harus mencumbui sepi.
Dalam sepi, bayanganmu kembali menjadi satu, terlihat kabur awalnya, namun menjadi semakin jelas pada akhirnya. Wajahmu tergambar jelas dalam pikiranku. Sementara rindu tak akan pernah lagi terbalaskan olehmu; kehadiranmu sudah tidak lagi ada. Dan aku hanya bisa kembali bermimpi bersama sepi.
Teringat terakhir kalinya kita bertemu. Kau pegang tanganku erat. Tersenyum malu-malu hingga kulihat semburat merah itu menghiasi pipimu. Wajahmu semakin tirus, seperti sedang menyimpan beban yang teramat berat. Nafasmu pun mengeja satu-satu.
“Kau masih mencintaiku kan?” katamu, malu-malu. Entah kata apalagi yang harus kurangkai untuk menjawab pertanyaanmu itu. Aku sama sekali tak punya perbendaharaan yang tepat untuk mengungkapkannya. Aku hanya mengangguk. Itu saja. Tanpa menyadari bahwa itulah akhir dari kebersamaan kita.
Dan pada akhirnya bayang-bayang itu kembali mengabur, tak lagi bisa terlihat dengan jelas. Seperti kabut, kepedihan memenuhi seluruh benakku. Satu per satu ingatan terdalam mengenaimu kembali lagi merobek hatiku.
Kau mati.
Andai kau tahu betapa hatiku ini tak pernah merelakanmu pergi. Tapi apa kuasaku? Aku hanya tubuh yang rapuh. Menjaga cintamu di sepanjang hidupku pun aku ragu. Mungkinkah bertahan? Jika kesepian ini semakin dalam menusuk-nusuk kalbu. Ia seperti kehampaan yang memenuhi rongga dadaku.
Seandainya Tuhan memberiku sebuah pilihan, tentu aku akan memilih bersamamu. Tapi kehidupan ini selalu punya alur ceritanya sendiri. Dan aku hanya memainkan peran. Meski aku yakin apapun yang direncanakan oleh-Nya adalah yang terbaik bagiku, bagi kita. Tetapi separuh hatiku masih ragu. Adakah yang lebih baik selain kebersamaan kita?
Aku di sini sendiri, mengunyah rindu, malu-malu. Tak terasa lagi hangat peluk dan kecup bibirmu. Tak terdengar lagi langkah kakimu yang gagah, yang bisa merubah dunia yang keras ini menjadi begitu bersahabat. Aku tak lagi bisa menggenggam kedua tanganmu. Tak lagi dapatkan kesempatan untuk berada dalam dekapmu. Aku sendiri, berkawan luka, penuh dengan darah. Mukaku pucat tak lagi bercahaya. Tak akan lagi ada wajah yang merona yang bisa kamu pandang. Aku bersahabat dengan samsara. Aku tumbuh bersama sepi yang menjalari seluruh pembuluh darahku. Aku kembali bercinta dengan sepi. Beranak pinak dengan rasa sakit.
Ah. Aku di sini sendiri. Mengunyah rindu. Malu. Karena aku telah menjadi gila, tanpamu. Berkawan sepi tanpa hadirmu.
Tulisan kolaborasi dengan mas Teguh Puja. Hasil tantangan singkat untuk menulis duet
![]()



Been so excited to have a collaboration writing with Puch.
mohon bimbingannya pak guru
Jadi berasa tua dipanggil begitu.
)
jadi, dipanggil apa nih? om? pakdhe?
Makin berasa tua.
)
panggil saya mbak klo kesepian
tuh, mas Teguh yg kesepian
kesendirian kadang diciptakan oleh kita sendiri….
sepatu mas, sepakat dan setuju
nggak paham puisi.
tapi kayaknya ge kangen sama sapa giitu..
???
ini cuma latihan nulis duet sama mas Teguh Puja
kerennnn…….
terima kasih
aku mengunyah rindu, malu malu. tiba tibaaa……..
kok aku pengen muntaaaaahhh !!
*ngrusak komen* huahahaha
haha, wis tak omongi kok ra percoyo
kikikikikk
keren pengulangan kalimatnya mbak..suka “Aku di sini sendiri. Mengunyah rindu. Malu-malu”
itu diajarin sama mas TP
[...] dari puisi kolaborasi mbak puch dan mas puji Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this. Posted in Curhat, [...]
tragis
saya sependapat
WOW … duet ternyata
WOW