Rupanya kebiasaan burukku tak serta merta bisa dimusnahkan begitu saja. Lagi-lagi harus menyediakan air panas untuk menyeduh segelas creamy cappuccino di saat malam-malam begini. Ya, kebiasaan mengerjakan sesuatu mepet deadline itu dari dulu terus saja berulang. Entah mengapa prinsip The Power of Kepepet itu masih saja menjadi energi paling dahsyat untuk mengerjakan semua tugas yang seharusnya kukerjakan.
Setelah pertemuanku dengan dosen sepekan yang lalu, ada beberapa hal yang memang harus kukerjakan. Aku sudah merincinya sedemikian agar lebih mudah untuk diselesaikan. Kurang lebih ada 5 point yang harus kurampungkan sebelum hari Kamis nanti.
- Analisis spektra.
Jujur saja, aku masih kebingungan untuk melakukan elusidasi struktur 1H-NMR side product dari penelitianku. Kata dosen, ini setara dengan penelitiannya S2. Maka dari itu, beliau menyarankan agar aku berdiskusi dengan mbak Siska (mahasiswa S2 yang sedang penelitian mengenai senyawa yang hampir sama dengan bahan penelitianku). Dan kebetulan mbak Siska baru bisa kutemui besok pagi.
- Pembahasan tentang senyawa yang sama namun memunculkan bercak berbeda dalam KLT atau sebaliknya.
Untuk hal ini, setidaknya aku sudah mendapatkan sedikit pencerahan. Kemungkinannya ada enantiomer untuk senyawa 1 (rasemik) dan diastereomer untuk senyawa 4 dan 5. Tapi penjelasan lebih lanjut belum juga kucari referensinya.
- Pengotor 424 di GC-MS.
Angka ini sungguh ajaib, dia selalu muncul dalam spektra GC-MS hampir di semua senyawa yang kuteliti, memunculkan peak aneh di samping senyawa target. Dugaanku hanya ada dua kemungkinan, entah itu impurities atau sesuatu yang ditambahkan oleh petugas ketika hendak running dulu, mengingat senyawa tagetku memang tidak volatile.
- Memperbaiki tanda apostrop dalam penulisan nama kimia.
Yang ini sudah selesai kukerjakan. Sangat mudah, hanya mengganti tanda ( ‘ ) dengan tanda ( ‘ ) saja di setiap nama kimia yang kutuliskan pada draft.
- Gambar struktur senyawa kimia.
Yang ini juga sudah selesai kukerjakan. Hanya kesalahan kecil yaitu melakukan export dari Chemsketch menjadi JPG. Hasilnya gambar jadi blur ketika diexport ke PDF maupun diprint. Makanya kuulangi lagi menggambar struktur melalui Chemsketch, langsung di copy paste ke MS Word sehingga lebih mudah untuk proses editing dan tentunya gambar tidak akan nge-blur.
Nah, rencananya malam ini aku bakal lembur untuk menyelesaikan point pertama yang paling sulit sebagai bahan diskusi esok pagi dengan mbak Siska. Sementara point 2 dan 3 masih bisa kutangguhkan untuk besok malam.
Suka duka dikejar deadline ketika mendekati penghujung Ramadhan itu adalah tidak bisa i’tikaf. Ya, itu juga salahku. Aku tau. Kalau kemarin salah seorang teman mengejekku dengan kata-kata seperti ini:
Lue gak i’tikaf Ji? Atau lue i’tikafnya di dunia maya…
Tak masalah, toh memang demikian halnya. Tapi kurang tepat jika dibilang aku i’tikaf di dunia maya. Lebih tepatnya, aku i’tikaf di dalam kamar, menghadap laptop yang menyala hampir 12 jam, berteman dengan segelas cappuccino, setoples cemilan, sebutir sunkist, sambil ngemut choki-choki. Sebelah kiri printer standby, sebelah kanan berserakan kertas-kertas A4, draft skripsi yang harus direvisi, notes kecil, pulpen, gunting, kertas fotokopy-an spektra, map plastik, dan sekotak tissue.
Kalau siang hari, maka tempat i’tikafku pindah. Tidak lagi di dalam kamar, tetapi di dalam sebuah ruangan yang dibatasi kaca-kaca besar, berderet-deret meja panjang dan kursi, serta dikelilingi oleh rak-rak tinggi berisi skripsi, disertasi, dan buku-buku tebal yang kertasnya sudah menguning saking jarangnya disentuh. Bukan dzikir dan bacaan tilawah yang kudengarkan, tapi keheningan yang terkadang diselingi oleh suara kertas dibolak-balik dan suara jemari yang mengetuk-ngetuk keyboard.
Begitulah, jika memang bisa disebut i’tikaf.
Dan hal ini baru akan berakhir hari Kamis nanti, usai menghadap dosen, tepat di hari terakhir kampus aktif menjelang lebaran. Dan tentu saja tepat di hari terakhir sebelum aku pulang kampung untuk menunaikan hak orang tua terhadapku.
Ah, aku tinggal punya waktu satu menit untuk mempublish tulisan ini. Sementara printer di sebelah kiriku sudah berkedip-kedip hendak memuntahkan kertas berlumuran tinta hitam. Sekian dan terima kasih, aku akan lembur lagi malam ini.



Kamu sudah beriktikaf kok, Puch. Bentuk pekerjaan yang kamu lakukan sekarang insya Allah akan tetap bernilai sebagai ibadah juga.
Semoga semuanya diberikan kelancaran ya.
aamiin, semoga tercatat sebagai pahala ibadah (menuntut ilmu)
cahyo! mbak puch…
eh, cahyo sampai ke sini juga?
hehe. mas cahyono sempet mampir di rumah saya…
bawa oleh-oleh gak?
bakpia keju sekotak. hehehe
*jadi pengen makan bapkia lagi*
sudah subuh, dilarang makan lagi sampai bedug maghrib nanti
lembur, saya jamin 2 tahun lagi mbak akan merindukan masa-masa seperti ini, haha
)
mungkin saja, asal kerjaan saya 2 tahun lagi gak pakai lembur2 lagi
haha, mau kerja dulu apa nikah dulu? *eh
dua-duanya deh
^^
smoga sesegera mungkin mungkin selesai
aamiin
Kalau begini saya bersyukur menjadi tua..Gak diburu-buru kewajiban belajar dan menyelesaikan tugasnya lagi hehehe..
suatu saat saya juga akan menjadi tua
aku pengen tersenyum ada kata-kata “pulang kampung untuk menunaikan hak orang tua terhadapku” itu gmna ya??
apa yg dimaksud itu baju dan angpau Lebaran?? hehehe
bukan lah de’, saya kan sudah besar, udah gak ada angpau dan baju lebaran
Semangat semangat!!
jaman kuliah dulu, sempat ada gurauan gini “klo ngerjain skripsi, belum sampe kena maag atau diare, itu belum pantas untuk lulus”
muga-mugo ndang rampung, ndang disalami rektor neng GSP
ahhh, persoalan yang kedua saya sudah mbak
kalau maag, jangan deh….
aamiin
semua akan indah pada waktunya..
yeah, i think so