Kopi Terakhir

09:28 PM

Gerimis masih terdengar satu-satu rintiknya menerpa jendela kaca. Menyisakan buliran air yang meleleh, terkalahkan gaya gravitasi untuk terus meluncur ke bawah jendela. Sepoi angin dingin tiba-tiba menerpa kulit, sesaat usai aku membuka pintu. Hanya beberapa detik saja, pintu kembali kututup.

Entah apa tujuanku membuka pintu. Hanya memastikan jalanan basah di luar? Atau penasaran dengan rintik hujan? Atau hatiku yang masih selalu tertarik, untuk menyapamu. Hujan. Adakah engkau masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu?

Kusesap kopi yang tinggal setengah cangkir itu. Sudah dingin. Rasa pahit yang tertinggal semakin menegaskan bahwa hidup ini memang pahit, seperti kopi. Tapi sepahit apa pun ia, tetap selalu diburu oleh para pecintanya.

Mataku masih tertuju pada layar laptop di samping tempat tidur. Jariku masih bertahan untuk menari di atas keyboard, menelusuri baris demi baris excell berisi tulisan bahasa Inggris. Sesekali jari telunjukku membenarkan letak kacamata yang selalu melorot. Seolah hendak menyampaikan pesan padaku, sudah saatnya beristirahat.

Alunan instrumental musik May Be dari Yiruma yang kuputar dari Spotify sudah hampir sampai ujung akhirnya, ketika kembali lagi kusesap kopi dingin itu. Ini untuk yang terakhir, batinku.

Kopi terakhir.

Sudah tiga bulan sejak asam lambungku tak sanggup lagi menahan serangan kafein. Setiap kali minum kopi, meskipun itu hanya kopi sachet yang dijual di Alfamart, sudah dipastikan keesokan paginya lambungku akan bergejolak. Bergerak naik dan menyiksa ujung kerongkongan. Seperti mau muntah tapi tak kunjung muntah.

Ini kopi terakhir.

Secangkir kopi yang kuminum malam ini, semoga menjadi akhir dari kepahitan yang selalu menyertai pangkal lidahku. Juga kepahitan yang sepuluh tahun lamanya membelenggu ulu hatiku.

Mungkin nanti, suatu saat nanti. Ketika perutku mau berkompromi. Ketika asam lambungku tak lagi berunjuk rasa. Aku bisa merasai secangkir kepahitan itu kembali.

Mungkin nanti, suatu saat nanti. Aku bisa kembali mengenangmu, seperti sepuluh tahun yang lalu.

 

Tanah Baru, 0707

Ferron Fun Day 2019

23 Maret

Ini hari Sabtu. Hari bermalas-malasan bagi saya. Tapi hari ini saya sudah keluar kos pukul 06:00 pagi, tanpa sarapan, untuk mengikuti event Ferron Fun Day yang diselenggarakan oleh kantor tempat saya bekerja.

Biasanya saya absen dari kegiatan-kegiatan semacam ini di kantor. Tahun lalu dan tahun sebelumnya saya juga tidak hadir. Salah satu alasannya adalah saya tidak terlalu suka keramaian, apalagi bersama orang-orang yang setiap hari saya temui di kantor. Bosan. Loe lagi loe lagi. Senin hingga Jumat sudah bertemu dengan mereka, masa week end pun harus ketemu mereka?

Tapi akhir-akhir ini saya sering berpikir ulang, ada baiknya saya mengalah dengan ego saya pribadi. Sosialisasi itu juga perlu, gak semata-mata soal pekerjaan. Have fun dengan teman-teman kantor, ngomongin hal-hal di luar pekerjaan, seru-seruan bareng tanpa pandang siapa atasan siapa bawahan, itu juga penting untuk menciptakan keharmonisan lingkungan kerja.

So, tahun ini saya ikut meramaikan.

Read More »

Urban Farming Purwakarta

Rumah Petani ala Eropa
Rumah Petani ala Eropa

Tiga minggu yang lalu, akhirnya rencana kami tak lagi sekedar wacana. Jadi ceritanya sudah berbulan-bulan lalu adek saya chat di WA, kasih tau kalau di Purwakarta ada tempat wisata baru yang instagramable. Tapi berhubung jadwal libur kerja kami yang gak pernah matched, rencana kami untuk ke sana hilang ditelan kesibukan masing-masing.

Hingga tahun berganti menjadi 2019, dan pas banget moment-nya dia cuti sementara saya libur, berangkatlah saya ke kos-an dia di daerah Sadang. Nagih janji buat main ke Urban Farming yang terus terang sangat menggiurkan bagi saya yang hobi foto-foto bunga.

Flower Boy
Flower Boy

Berangkat dari Cikarang pukul delapan pagi, sampai kos adek sekitar pukul sepuluh kurang dikit. Nungguin dia mandi, trus nyari sarapan, akhirnya pukul sebelas siang pas matahari terik-teriknya baru tancap gas naik motor menuju lokasi.

Read More »