Inspirasi

The Defeat

defeat

“Jangan menyerang. Sebelum kukirimkan kepadamu bala bantuan pasukan di bawah pimpinan Syarhabil.”

Adalah Ikrimah, ia terburu-buru berperang sendirian melawan nabi palsu, Musailamah. Tak mengindahkan perintah sang Khalifah untuk menunggu bantuan pasukan. Hatinya telah dipenuhi keinginan untuk menjadi yang paling hebat. Maka, kekalahanlah yang ia dapatkan.

Sementara itu Syarhabil, di tengah perjalanan mendengar kabar kekalahan Ikrimah. Bersamaan dengan datangnya surat dari Khalifah:

“Jika Khalid datang kepadamu kemudian kalian dapat mengalahkan Musailamah, insyaAllah, serahkan kepemimpinan kepada Amr bin Ash sehingga orang yang enggan kembali ke Islam bersamanya.”

Syarhabil tak belajar dari kekalahan Ikrimah. Ia pun terburu-buru menghadapi pasukan Musailamah sebelum Khalid datang. Dia berharap dapat mengalahkan Musailamah sehingga ia bisa membanggakan diri. Terjadilah, kembali pasukan muslim harus menelan pil pahit kekalahan.

Khalid pun merenung, bagaimana mungkin pasukan muslim dapat dikalahkan seperti itu. Kalaupun pasukan musuh jumlahnya begitu banyak, bukankah pasukan muslim sudah terbiasa mengalahkan musuh yang jumlahnya berlipat ganda? Ada apa dengan kekalahan ini?

Ternyata kekalahan ini disebabkan oleh hal kecil. Di dalam pasukan muslimin terdengar ungkapan saling membanggakan diri. Mereka saling merasa besar sampai-sampai hati mereka menjadi kotor. Lantas mereka saling menghina.

Demikian, sejarah mengajarkan pada kita tentang sebuah kekalahan yang berasal dari diri sendiri. Akibat penyakit hati, membanggakan diri dan merasa hebat. Astaghfirullah.

Barangkali, kekalahan yang kita dapati dalam perjalanan hidup pun karena ini. Karena kita tak menyadari bahwa di dalam hati kita tersembunyi debu-debu kesombongan.  Boleh jadi sangat halus, hanya semacam titik noda, tapi dampaknya sampai pada tataran niat. Padahal Nabi kita mengajarkan bahwasanya amal itu tergantung pada niat. Kita hanya akan memperoleh apa yang kita niatkan. Tidak lebih.

Yaa Rabb, ampuni dosa-dosa kami. Bersihkanlah hati kami dari niat-niat yang tidak tulus, bersihkanlah hati kami dari remah-remah sikap ujub.

Sesungguhnya ambisi itu hanya untuk menolong agama Allah. Jika kita menolong agama Allah, maka Dia akan menolong dan menetapkan kaki kita. Ini adalah kemenangan agung yang dijanjikan kepada orang bertaqwa lagi ikhlas.

Sekian.

Semoga segala tujuan, impian, cita-cita, keinginan, perjuangan, dan aktivitas kita semata-mata hanya untuk mengharap ridho-Nya. Bukan karena yang lain, apalagi hanya untuk terlihat “hebat” di mata manusia.

February 05, 2014
Gubug Biru, 08.33 pm

Note:
Di dalam sebuah perenungan, tiba-tiba aku teringat kisah ini. Kegagalan demi kegagalan yang terjadi padaku akhir-akhir ini, mungkin saja salah satunya karena ini. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. 

2 thoughts on “The Defeat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s