Uncategorized

Perihal Tempat Duduk

kenapa yang paling depan dibiarkan kosong? taken from georgetterox.wordpress.com

Tiga minggu pertama kuliah. Seingatku, baru sekali aku mengambil tempat duduk di deretan kedua. Selebihnya, aku selalu duduk di deretan pertama, ujung bagian timur, tepat di depan layar proyektor. Tak peduli ada atau tidaknya teman sebangku. Kursi di sebelahku itu, kadang kosong tanpa penghuni, kadang ada juga teman mahasiswi, tak jarang justru mahasiswa.

Mungkin beberapa orang merasa aneh dengan kebiasaanku. Saat teman-teman yang lain saling berebut untuk mendapatkan kursi (yang tidak di depan sendiri), aku justru dengan santainya duduk paling depan meskipun kursi di deretan belakang banyak yang kosong. Saat teman-teman yang lain merasa tidak nyaman ketika duduk sendirian sehingga kebanyakan mereka rela umpel-umpelan sebangku dipakai berenam, aku justru lebih suka meja yang lapang. Tak perlu harus saling beradu sikut dengan teman sebangku.

Barangkali beberapa dari mereka pernah menanyakannya kepadaku. Perihal tempat duduk pilihanku itu. Yang boleh jadi semacam wilayah otoritas dan paling prinsip sehingga aku enggan untuk beralih ke tempat yang lain. Lalu aku hanya tersenyum sambil menjawab:

“Aku suka duduk di depan.”

Sejujurnya ada beberapa alasan mengapa demikian. Pertama, barangkali ini sifat bawaanku sejak dulu. Selalu ingin menjadi ‘yang terdepan’ dalam segala hal. Sedikit ambisius memang, aku pernah menuliskan satu target untuk kuliah profesi kali ini yaitu –kupikir tak perlu kutuliskan di sini. Bagi mereka yang pernah masuk ke kamar kos-ku mungkin saja tau, terutama Ly, sahabatku yang satu itu bahkan membacanya dengan keras dan seolah memintaku berkomitmen untuk benar-benar merealisasikan impianku itu.

Kedua, aku memiliki sifat yang kurang bagus. Tidak percaya diri ketika duduk di belakang. Dengan duduk di meja paling depan, aku akan mengasumsikan bahwa tidak ada manusia di belakangku. Batas pandanganku semakin sempit, hanya teman yang kebetulan duduk sederetan dan dosen di depan. Dengan demikian, aku lebih berani untuk bertanya, mengemukakan pendapat, atau berinteraksi langsung dengan dosen. Dan ini terbukti selama 3 minggu kuliah. Aku merasa tidak lagi seperti mahasiswa S1 yang hanya duduk di ruangan, tanda tangan presensi, mendengarkan dosen berceramah, lalu pulang dengan segepok catatan.

Ketiga, aku memang tidak bisa melihat dengan jelas ketika duduk di belakang. Terutama untuk tulisan dosen di papan tulis yang (maaf) butuh akomodasi penuh untuk bisa membacanya. Bahkan duduk di meja paling depan pun kita belum tentu bisa membacanya. Kebayang gak kalau tulisan dosen itu mirip sama tulisan dokter yang ngasih resep?!😆

Jadi, gak ada salahnya kan dengan kebiasaanku duduk di depan?

March 11, 2014
Ruang V PSPA FF UGM ‘14

13 thoughts on “Perihal Tempat Duduk

  1. Hehe. Kalau kata orang-orang, posisi duduk itu menentukan prestasi.

    Kebiasaan duduk di depan ini cukup bawa manfaat besar Puch, karena ya konsentrasinya juga jadi lebih terpusat sama objek paling penting, dosen, haha. x))

    Tapi berasa banget kayak lagi diomongin prof setiap duduk di depan. Hehe.

      1. Nah itu dia, Hehe. Pertanyaan siap dilayangkan kapan aja, dan itu bikin kita harus siap dan konsen sama apa kata dosen. Haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s