Uncategorized

Robohnya ‘Gubug’ Kami

Rabu kelabu. Pagiku pun tak lagi biru.

Kabar yang kucuri dengar dari sebalik tembok kamar, berasa membakar telinga, lalu perlahan panasnya turun ke dada. Mempercepat degup yang mampu beresonansi pada kelenjar air mata.

“Rasah dodol. Warungmu diobong uwong.”

Begitu penggalan kalimat yang kudengar dari tamu kami pagi ini. Sementara ibuk tergopoh-gopoh keluar dari dapur, dengan sedikit gemetaran menemui tamu kami.

Ya, ini adalah kejadian ketiga dari rentetan teror yang ditujukan untuk keluarga kami. Rupanya mereka –orang-orang yang membenci keluarga kami, entah untuk alasan apa- tak puas hanya dengan membakar warung kami sekali dulu. Juga tak puas dengan reaksi kami yang tenang-tenang saja saat mereka membuang tinja di warung kami, menumpuk kotoran unggas di bawah lantai bambu, juga melempar bangkai ayam di atas atapnya. Belum puas dengan perbuatan tak bertanggungjawab menempelkan gambar tengkorak yang membuat ibuk kami ketakutan untuk berjualan lagi.

Entah untuk alasan apa….

Kami merasa tak pernah punya musuh. Kami pun mencari uang dengan cara halal, tanpa merugikan pihak maupun orang lain. Tapi entah mengapa selalu saja ada orang yang benci.

Ibuk kami adalah sosok perempuan yang luar biasa. Ibu yang tak pernah putus asa untuk senantiasa memperjuangkan anak-anaknya agar “menjadi orang”. Ibuk kami bukanlah orang berpendidikan, sekolah dasar saja hanya sampai kelas 3, lalu putus sekolah karena ditinggal mati orang tuanya.

Lalu, beliau mempunyai sebuah cita-cita mulia. Ingin kedua anaknya (aku dan adikku) bisa bersekolah setinggi-tingginya. Itulah kenapa, meskipun biaya kuliah begitu mahal, ibuk tetap mendorong kami untuk kuliah. Hanya dengan modal berjualan lotek, gorengan, dan es campur di pinggir jalan menuju pantai Trisik, dengan warung (baca: gubug dari bambu) seadanya.

Jika ada yang membaca sampai pada paragraf ini, tolong jangan tanyakan dimana ayah kami. Toh aku tak peduli. Kedua orang tua kami sudah berpisah, dan tentu saja kami tak pernah punya alasan dan kemauan untuk hidup bersama ayah kami.

Rabu kelabu. Pagiku pun tak lagi biru.

Gubug itu baru beberapa hari yang lalu diperbaiki. Kemudian pagi ini sudah menjadi abu dan sisa-sisa potongan bambu yang tak habis terbakar. Meskipun kerugiannya tak seberapa, tapi taukah mereka? Bahwa apa yang mereka lakukan itu telah membuat satu-satunya sumber penghasilan keluarga kami musnah.

Dan betapa tak teganya kami menyaksikan ibuk kami kini berjualan lesehan di tepi jalan, di samping gubug yang terbakar. Beratapkan langit, terpanggang panas matahari saat terik. Berbasah-basah dengan air manakala hujan.

Kalau kata orang, “Gusti Allah mboten sare.” Setiap orang akan menuai apa yang ia perbuatkan. Jika tidak di dunia, pastilah di akhirat kelak. Kami tidak mendendam, juga tak hendak menuntut balas atas semua yang mereka lakukan. Tapi kami hanya mengingatkan, bahwasanya akan ada hari pembalasan.

Toh bagi kami, ini hanya sebuah ujian…. Maka, doakan kami, teman…

Jl. Trisik, March 12, 2014
sebelum berangkat kuliah

10 thoughts on “Robohnya ‘Gubug’ Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s