Inspirasi

Karena Benih Semangka

taken from zaeborokokok.blogspot.com

Ceritanya, pagi tadi saat berangkat ke kampus aku berada di belakang seorang bapak bersepeda motor. Boncengan motornya dipenuhi muatan benih semangka yang sudah mulai berdaun setangkai atau dua tangkai, siap disemai di sawah.

Sampai di perempatan Palbapang Bantul, tepat saat lampu merah, entah bagaimana kejadiannya, muatan si bapak tersebut tumpah. Benih semangka yang siap tanam itupun berceceran di aspal. Tanah dalam pot-pot kecil pun berserakan, sementara kecambah semangkanya banyak yang patah.

Beberapa orang turun membantu si bapak memunguti kembali benih semangka itu. Namun, saat masih banyak benih yang berceceran, lampu hijau pun menyala. Si bapak pun menghentikan kegiatannya sambil mempersilakan orang-orang yang tadi menolong untuk melanjutkan perjalanan.

Aku pun melanjutkan perjalananku. Tak tau lagi bagaimana ceritanya kemudian.

Perasaanku terketuk. Tentunya kasihan sekali si bapak tadi. Benih semangkanya mungkin tak bisa lagi disemaikan.

Seperti resonansi kejadian di masa lalu. Aku juga anak petani, tau persis bagaimana susahnya menjadi seorang petani. Proses menumbuhkan benih itu bukan persoalan mudah, butuh waktu untuk memasukkan campuran tanah dan pupuk kandang ke dalam pot-pot kecil, butuh waktu untuk menyiram hingga tanah memadat, butuh waktu untuk membuat kecambah dari biji semangka, butuh waktu untuk menanamnya satu persatu dimana jika posisinya terbalik atau tidak tepat maka tidak akan tumbuh, butuh waktu lagi untuk menunggunya hingga muncul daun satu dua tangkai.

Belum lagi kerumitan selama menanam, merawat, itu pun belum bisa dipastikan panennya akan berlimpah. Kadang tanamannya penyakitan, tak jarang justru merugi. Ongkos tanam lebih besar daripada hasil panennya.

Ah, lagi-lagi begitulah nasib para petani kecil….

Tiba-tiba ingat bapak. Tiba-tiba ingat ibuk. Bahwa mempunyai sepetak sawah itu tak menjanjikan. Bersyukur bilamana itu cukup untuk makan keluarga sehari-harinya. Untuk biaya sekolah? Tentu harus punya pekerjaan yang lainnya.

Jadilah merasa berdosa jika aku mempermainkan kesempatan kuliahku untuk bermain-main dan tak serius. Betapa ibuk sudah membanting-tulang mengurus sawah dan berjualan demi kuliahku. Sungguh merasa berdosa seandainya aku masih mengulangi kesalahanku ketika masih S1 dulu.

Kuliah profesi ini, aku berjanji tidak akan pernah bolos lagi…
Tidak akan pernah, meski sebuah ‘taklimat’ sekalipun.

March 25, 2014
aku di ruang kelas, sedang kuliah Farmasi Rumah Sakit
mungkin di Maguwoharjo sedang ada higar bingar kampanye no.3

19 thoughts on “Karena Benih Semangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s