Farmasi · Health Corner

Interaksi Obat Kontrasepsi Oral vs Antibiotik

taken from blog.secularprolife.org

Saat belajar tes obat di Praktikum Compounding & Dispensing, pernah menjumpai materi tentang kontrasepsi oral yang berinteraksi dengan antibiotik (dalam hal ini Rifampisin) sehingga terjadi kegagalan terapi. Kemarin, bertemu lagi dengan kasus yang sama di mata kuliah Biofarmasetika Terapan yang melibatkan flora normal usus. Terus, saya jadi penasaran, bagaimana mekanismenya?

Etinil estradiol, biasanya digunakan dalam kontrasepsi oral, diabsorpsi secara sistemik sekitar 40-50% dalam bentuk aktif tidak berubah. Sisanya akan mengalami first pass metabolism di dinding usus dan hati melalui enzim CYP 3A4.

Sementara itu, konjugat etinil estradiol yang inaktif diekskresikan ke dalam empedu. Konjugat inaktif ini dapat di-dekonjugasi oleh flora normal dalam tubuh yakni estradiol β-glukoronidase menghasilkan metabolit aktif yang direabsorpsi di usus halus melalui mekanisme enterohepatik. Reabsorpsi ini bertanggung jawab untuk mempertahankan level obat dalam darah masuk ke rentang terapetik.

Beberapa penelitian telah membahas mengenai interaksi antara antibiotik dengan kontrasepsi oral, misalnya terjadi penurunan sirkulasi enterohepatik, persaingan di site yang sama pada enzim pemetabolisme, peningkatan eliminasi dan sebagainya. Ada juga yang menyebutkan bahwasanya formulasi sediaan kontrasepsi oral hanya mengandung sedikit estrogen (kurang dari 35 µg), sehingga kemungkinan terjadinya interaksi lebih besar.

Kalau yang saya dapat dari penjelasan kuliah minggu lalu, memang kadar zat aktif kontrasepsi oral itu kecil saja, yakni sedikit di atas MEC. Hal ini terkait dengan hormon, dimana diperlukan kehati-hatiannya ketika digunakan.

Ampisilin dapat mengurangi jumlah flora normal bakteri usus yang terlibat dalam hidrolisis konjugat estrogen di saluran pencernaan. Rifampisin dan griseofulvin juga diketahui berperan sebagai inducer enzim. Rifampisin dapat menurunkan kadar etinil estradiol dan noretindron melalui aktivitas inducer enzimnya.

Berbagai penelitian dalam kasus ini memberikan data yang masih bertentangan, sehingga belum dapat dijelaskan dengan tepat mengenai keterkaitan antara antibiotik dengan kegagalan kontrasepsi oral. Hanya saja, pada wanita beresiko seperti mereka yang kecepatan hidroksilasi etinil estradiolnya rendah, kecepatan konjugasinya tinggi sangat rentan terhadap antibiotik tertentu.

Demi kehati-hatian penggunaan obat dan menghindari efek yang tidak diinginkan (terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki), dianjurkan bagi perempuan yang menggunakan antibiotik untuk jangka panjang memilih kontrasepsi yang lain misalnya suntik. Bagi mereka yang menggunakan antibiotik jangka pendek, disarankan untuk menggunakan tambahan kontrasepsi non hormonal pada tahap inisiasi dan selama terapi atau 14 hari, mana yang lebih lama, ditambah 7 hari lagi setelah terapi antibiotik dihentikan.

One thought on “Interaksi Obat Kontrasepsi Oral vs Antibiotik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s