Farmasi · Kuliah Profesi

Manajemen Perapotekan

Kamis, 5 Juni lalu ada kuliah tamu yang wajib dihadiri oleh semua mahasiswa PSPA Fakultas Farmasi UGM. Temanya mengenai manajemen perapotekan yang disampaikan oleh Drs. Hartono Hdw, Apt., MM, penulis sekaligus praktisi di bidang apotek.

Sebenarnya, sebagai mahasiswa profesi apoteker, aku tidak terlalu tertarik dengan perapotekan. Masih mental buruh, penginnya kerja di industri farmasi. Selain gajinya lumayan, resikonya juga gak terlalu berat dan rumit semisal menjadi pemilik sekaligus pengelola apotek.

Tapi, perempuan berkarir di industri? Betah berapa lama kira-kira? Nanti kalau sudah berkeluarga dan punya anak bagaimana? Akhirnya mikir lagi deh…

Ambil kesimpulan sadis sementara ini, kelak lulus apoteker aku mau kerja di industri (karena memang basic-ku di PST) sambil ngumpulin modal buat mendirikan apotek. Jadi, pas gilirannya harus berumah tangga, kerjanya di apotek saja, tetap berkarir tetapi keluarga gak terbengkelai. Begitu kira-kira pikiran sederhananya.

Kenapa harus punya apotek sendiri?

Nah, kuliah tamu kemarin itu cocok banget buat yang mau mendirikan apotek sendiri. Catat baik-baik ya: YANG MAU MENDIRIKAN APOTEK SENDIRI, bukan yang mental buruh (jadi APA atau APING di apoteknya orang lain). Konon katanya, apoteker yang punya apotek di Indonesia hanya sekitar 10% saja. Kebanyakan apotek dimiliki oleh dokter dan pengusaha. Nah lho! Katakanlah apotek K24 yang ada dimana-mana itu, punya siapa? Pendirinya dokter, Bro! Sementara kita-kita yang apoteker malah punya hobi baru yaitu jadi ‘buruh tekab’ yakni kerja di apotek milik orang lain, habis teken kontrak langsung kabur (jarang ada di apotek).😦

Padahal ada banyak keuntungan yang bisa didapat jika apoteker mau membuka apotek sendiri: bisa jadi boss (nyuruh-nyuruh orang), bisa buka lapangan kerja buat orang lain, bisa beli obat dengan harga pokok, gak dipensiunkan orang, dll.

Modal dari mana?

Kebanyakan freshgraduate akan nanya seperti ini. Modal bisa dari mana saja, bisa dari orangtua (kalau ortunya tajir), calon mertua (eh boleh juga loh), gabungan beberapa apoteker (patungan gitu), pinjem bank atau IAI, bisa juga dari relasi.

Mesti punya jiwa entrepreneur kalau mau buka apotek mah. Selain itu juga harus pandai senyum, ramah sama semua orang, jadilah orang ekstrovert. Eh, eniwei semua syarat itu kayaknya bukan aku banget deh!😆

Tips & Trik

Pertama, untuk memudahkan baca resep dokter yang tulisannya lebih parah daripada cacing dikasih garam itu, mulailah mengumpulkan resep-resep dokter masing-masing 2, kumpulkan selama 3 bulan. Biasanya resep dokter hanya itu-itu saja, mungkin beda kalau misalnya ada medrep yang ngasih komisi besar untuk meresepkan produknya. Ups. Selain memudahkan baca resep, hal ini bisa mengurangi medication error serta menekan jumlah resep yang ditolak.

Kedua, jadi manager harus punya BCA-AKU (belief, courage, action, ambisi, keterampilan dan usaha). Jadi seorang apoteker pemilik apotek mesti melek manajemen (akuntansi, SDM), tahu peraturan yang berlaku, pandai marketing, pinter menjalin hubungan dengan orang lain.

Ketiga, keadaan masa kini harga obat naik sementara daya beli turun, apa yang harus dilakukan? Cari SDM yang jujur dan disiplin, punya sense of belonging. Lokasi apotek harus strategis (misal deket rumah sakit, perumahan, praktek dokter, keramaian), hubungan antar manusia harus baik (customer service, melayani resep jangan sampai lebih dari 10 menit, ruang tunggu dibikin nyaman (sediakan TV, dispenser), bangun network minimal dengan 3 apotek lain biar bisa nempil obat, pandai-pandai cari pelanggan dan peluang.

Keempat, ada 10 keinginan pelanggan yang apabila terpenuhi maka mereka akan puas. Simak baik-baik ya!

Availability Ketersediaan obat lengkap
Order tepat Order barangnya tepat, sesuai kebutuhan
Quality Kualitas obat dll bagus dan terjamin
Information Pemberian informasi obat lengkap
Time Waktu peracikan obat tidak terlalu lama
Claims Ada i’tikad baik dalam menanggapi klaim dari customer
Behavior Perilaku SDM sopan, ramah, banyak senyum
Convenience Buat customer merasa nyaman
Price Harga bersaing, kalau bisa murah tapi gak rugi
After sales service Semacam layanan purna jual gitu

Demikian sedikit resume yang sempat mampir di buku catatanku. Gak lengkap memang, karena aku ngantuk banget pas kuliah (padahal udah duduk di meja paling depan loh).

Kuliah diakhiri dengan quiz yang cukup menghibur, pembicara memberikan 5 macam gambar hewan dan peserta diminta untuk mengurutkan satu per satu berdasarkan prioritas yang paling disukai (terlepas dari agama, soalnya ada gambar babi). Kelima hewan itu adalah horse, cow, pig, sheep, dan tiger. Pilihanku adalah HORSE – TIGER – PIG – COW –SHEEP. Dan ternyata…. Pilihan-pilihan itu ada maknanya.

Horse = keluarga
Tiger = kebanggaan
Pig = uang
Cow = karir
Sheep = cinta

Hahaha, unpredictable. Ternyata bagiku keluarga adalah number one. Benar-benar di luar ekspektasi. Cukup sombong karena kebanggaan ada di urutan kedua, juga matre karena uang ada di urutan ketiga.😆 Dan sayang sekali, karir ternyata tidak begitu prioritas. Kok bisa ya? Padahal ambisiku dalam hal karir cukup mengkhawatirkan (bikin orang yang denger keinginan dan cita-citaku jadi ngeri sendiri).

The last, poor me! Ternyata bagiku cinta is bulshit. Pantesan hari gini masih jomblo! Eh keceplosan.👿

2 thoughts on “Manajemen Perapotekan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s