Farmasi · Health Corner

Dekongestan untuk Pasien Hipertensi, Amankah?

taken from http://www.amazine.co

Beberapa hari yang lalu, ketika pembekalan compounding & dispensing, ada sebuah kasus yang ditulis oleh dosen kami mengenai pemberian obat common cold (kita sering menyebutnya “flu”) yang mengandung dekongestan untuk pasien hipertensi.

Apa itu dekongestan?

Dekongestan adalah agen simpatomimetik yang memiliki aksi terutama pada α-adrenergik reseptor dan juga beberapa aktivitas pada β-adrenergik reseptor. Aktivitas alfa agonis menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan) pada pembuluh darah superfisial dalam mukosa hidung, mengurangi edema, dan hidung tersumbat.

Pada saat kita mengalami “flu”, salah satu gejala yang sering terjadi adalah kesulitan bernapas karena hidung tersumbat. Hal ini disebabkan oleh melebarnya pembuluh darah di mukosa hidung. Dekongestan dengan aktivitasnya sebagai vasokonstriktor (menyempitkan pembuluh darah) sangat membantu mengatasi keluhan semacam ini. Oleh karena itu, dekongestan sering kita jumpai pada sediaan obat “flu”, beberapa di antaranya yaitu pseudoefedrin, phenylephrine, dan phenylpropanolamine.

Penggunaan dekongestan untuk pasien hipertensi.

Pseudoefedrine

Menurut penelitian Salerno et al, pseudoefedrin dapat meningkatkan tekanan darah sistolik dan denyut jantung, dengan efek paling besar pada dosis yang lebih tinggi dan penggunaan obat jangka pendek.

Mekanisme aksi pseudoefedrin selektif untuk reseptor α-adrenergik yang terdapat pada mukosa hidung, namun dalam dosis yang lebih tinggi bisa menimbulkan penyempitan pembuluh darah secara sistemik yang bermanifestasi pada kenaikan tekanan darah.

Pasien dengan hipertensi terkontrol tampaknya tidak beresiko untuk peningkatan tekanan darah dibandingkan pasien yang diberikan pseudoefedrin bersama dengan obat-obat antihipertensi. Meskipun demikian, penulis mencatat bahwa peningkatan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg terjadi pada 3% pasien, sehingga risk-benefit ratio harus dievaluasi secara hati-hati sebelum menggunakan agen simpatomimetik pada individu yang beresiko.

Phenylpropanolamine

PPA secara signifikan menaikkan tekanan darah sistolik dan diastolik (4,1 mmHg; 95%), namun tidak berefek pada denyut jantung. Efek yang lebih besar terjadi pada dosis yang lebih tinggi dan formulasi immediate release dibandingkan dengan sustained release.

Sama halnya dengan pseudoefedrin, PPA juga bersifat sebagai vasokonstriktor. Dalam dosis kecil akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah lokal di sekitar hidung, sehingga melegakan hidung tersumbat. Namun, dosis yang lebih besar akan berefek sistemik menyebabkan kenaikan tekanan darah dan memicu terjadinya stroke hemoragik (pecahnya pembuluh darah).

Pasien dengan hipertensi dan overweight memiliki simpatetik basal yang lebih tinggi menghasilkan regulasi instrinsik respon simpatetik yang lebih ketat dan terapetik indeks yang lebih tinggi pada saat terpapar obat-obat simpatomimetik.

Topikal dekongestan

Menurut FDA, dekongestan topikal secara sistemik distribusinya sangat kecil sehingga tidak mempengaruhi tekanan darah dan denyut jantung. Namun, nasal spray biasanya menyebabkan rebound effect (membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama pada penggunaan jangka panjang).

Solusi

First line therapy untuk common cold adalah istirahat, intake cairan yang adequate, humidifikasi untuk pengeluaran dahak, dan menghindari orang lain yang sedang terkena virus untuk meminimalkan penularan.

Alternatif lain untuk dekongestan bisa digunakan antihistamin generasi pertama. Antihistamin generasi pertama memiliki efek moderat pada pilek dan bersin, dan mata berair yang umum terjadi pada penderita common cold. Antihistamin memblok aksi histamine pada level reseptor, dapat digunakan untuk membantu mengurangi hidung meler pada pasien hipertensi yang tidak memiliki penyakit penyerta.

Jika penyumbatan hanya disebabkan oleh ingus yang kental, kita bisa menggunakan tetes hidung berisi larutan garam steril yang relatif lebih aman. Hal ini bisa digunakan sebagai alternatif solusi untuk mencegah terjadinya rebound effect pada penggunaan nasal spray dalam jangka lama.

Di beberapa negara, PPA dosis besar digunakan sebagai obat pelangsing yang memiliki efek samping stroke hemoragik sehingga ditarik dari peredaran oleh FDA sejak November 2000. Sedangkan di Indonesia, PPA tidak digunakan sebagai obat pelangsing, hanya sebagai dekongestan yang dosisnya tidak lebih dari 15 mg. Dosis ini masih dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Jadi, jangan terlalu khawatir. Hanya saja, sebagai bentuk kehati-hatian alangkah lebih baiknya jika anda yang mungkin memiliki resiko tekanan darah tinggi untuk bijak memilih obat. Apabila memang harus menggunakan dekongestan, pseudoefedrin biasanya lebih dipilih daripada PPA untuk obat-obat “flu” bagi pasien dengan tekanan darah tinggi karena efeknya yang lebih kecil pada kenaikan tekanan darah.

Demikian, sedikit yang saya ketahui tentang dekongestan untuk pasien hipertensi. Karena saya pun sedang dalam proses belajar, mari saling mengoreksi. Silakan sampaikan masukan, saran, kritik, dan koreksi anda dalam bahasa yang santun. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s