Farmasi · Health Corner

Couvade Syndrome: Calon Ayah “Ngidam”?

taken from http://www.loveyourdash.com

Dulu, saya menyangka fenomena suami “ngidam” saat istrinya hamil hanya mitos saja, tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Tapi saya berubah pikiran saat membaca buku The Female Brain karya Louann Brizendine. Ternyata fenomena calon ayah “ngidam” itu sangat ilmiah sekali. Ini menarik dan menstimulasi otak saya untuk segera mencari jurnal-jurnal ilmiah yang bisa memuaskan rasa keingintahuan saya.

Couvade berasal dari bahasa Perancis “couver” yang artinya mengerami atau menetaskan,  digunakan pertama kali oleh seorang antropologist, Edward Burnett Tylor, pada tahun 1865 untuk mendeskripsikan harapan atau kecemasan mengenai kelahiran bayi pada komunitas primitif. Gejalanya tampak seperti menirukan kebiasaan wanita hamil atau dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan sebutan “ngidam”, menarik diri, berhenti melakukan aktifitas fisik dan seksual. Paling parah adalah menirukan kebiasaan wanita yang baru saja melahirkan seperti berada di tempat tidur dalam jangka lama dan menangis keras.

Sebuah penelitian di Polandia tahun lalu (2013) yang melibatkan 143 calon ayah mengungkapkan bahwa gejala-gejala seperti berat badan bertambah, nafsu makan berubah, dan flatulen sering kali dialami para calon ayah pada trimester pertama dan ketiga kehamilan istrinya. Selain itu, gejala yang umum seperti diare, mual, muntah, tidak enak badan, kaki kram, sakit perut, masalah usus, sakit gigi, masalah kulit, konstipasi, penurunan berat badan, bahkan pingsan juga dilaporkan.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa Couvade Syndrome disebabkan oleh masalah psikologis, calon ayah mendapatkan stress menjelang kelahiran bayinya. Calon ayah tidak yakin mengenai masa depan dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, perasaan takut dan cemas. Biasanya terjadi pada trimester pertama, menghilang di trimester kedua, dan semakin buruk di trimester ketiga.

Pendapat lain mengatakan bahwa ini pengaruh dari hormon, keluhan umum yang dirasakan para calon ayah (mencapai 65% di seluruh dunia) yang ikut merasakan beberapa gejala kehamilan saat istrinya mengandung. Beberapa minggu menjelang kelahiran, para calon ayah mengalami kenaikan level prolaktin sebanyak 20%. Pada saat yang sama, level hormon stress kortisol berlipat dua sehingga meningkatkan kepekaan dan kewaspadaan. Perubahan hormon ini menyiapkan otak mereka untuk membentuk ikatan emosional dengan bayi mereka. Para ilmuwan menduga bahwa mungkin feromon yang dikeluarkan perempuan hamil dapat menyebabkan perubahan neurokimia pada diri pasangannya, dengan demikian menyiapkan si laki-laki untuk menjadi ayah yang penyayang.

Wow, ini menarik, bukan? Buat para calon ayah yang kebetulan mengalami gejala semacam ini, jangan khawatir. Itu akan sembuh dengan sendirinya. Betapa Tuhan sedang memberikan pelajaran berharga untuk anda agar berempati terhadap penderitaan istri dan kelak mampu menjadi ayah yang baik. Hehe.

[Solo, menjelang akhir pekan]

7 thoughts on “Couvade Syndrome: Calon Ayah “Ngidam”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s