Apotek · Farmasi · Inspirasi

WIPA; Potret Kejayaan yang Mulai Terlupakan

taken from fathimahnurul.blogspot.com

Diskusi pagi itu membahas tentang sejarah apotek. Dimana beliau, Bu Endang adalah salah satu pelopor berdirinya apotek milik apoteker. Kami bersembilan duduk takzim menyimak setiap penuturan beliau yang luar biasa itu.

Yah, bagiku sejarah selalu luar biasa untung dikenang kembali.

Tahun 1979, kurang lebih tiga puluh lima tahun yang lalu, belum ada apoteker yang memiliki apotek sendiri. Waktu itu apoteker hanya bekerja sebagai pengelola apotek yang dimiliki oleh PSA. Miris bukan? Apotek belumlah menjadi lahan garapan apoteker, namun justru menjadi lahan bisnis mereka-mereka yang “punya uang”.

Sebuah ide brilian muncul dari Jogja, bagaimana jika apoteker mendirikan apotek sendiri? Maka, digodoglah sebuah pilot project ujicoba 4 apotek yang dimiliki oleh apoteker di Jogja, salah satunya adalah apotek WIPA.

Apotek WIPA dimiliki oleh 9 orang apoteker dalam bentuk CV. Bermodalkan uang sebesar 15 juta, sembilan apoteker tersebut memperjuangkan eksistensinya. Meskipun dibebani syarat yang tidak bisa dikatakan mudah, mereka meraih sukses setelah setahun ujicoba. Demikian menjadi pertimbangan dikeluarkannya PP No. 25 Tahun 1980 tentang pemberian izin apotek kepada apoteker.

Konon syarat yang harus dipenuhi apoteker pada masa ujicoba antara lain apoteker harus mempunyai modal sendiri (waktu itu 1 juta senilai dengan 1 sepeda motor), apoteker juga harus full time, serta harus membuka satu lagi apotek di daerah pedesaan. Meskipun jatuh bangun, setidaknya ini merupakan langkah besar untuk kesejahteraan profesi apoteker yang masih saja dipandang sebelah mata.

Kesuksesan itu ternyata mampu tertularkan pada rekan sejawat, banyak apoteker yang kemudian ingin mendirikan apotek sendiri, tidak hanya “dipekerjakan” orang yang punya modal. Universitas-universitas di Jogja pun mulai melirik untuk membuka program studi profesi apoteker.

Lalu sebuah pertanyaan menggelitik beliau lontarkan kepada kami:

“Kenapa tidak berani punya apotek sendiri?”

Kebanyakan jawaban kami mungkin terlalu standar, bahkan klise. Barangkali hampir semua mahasiswa internship di sini bertahun-tahun yang lalu pun mengucapkan hal sama: tidak punya modal, minim pengalaman, kurang menguasai manajemen, ingin jadi “karyawan” di industri.

Itulah, banyak apoteker sekarang yang kembali lagi pada masa lalu. Seolah semangat yang demikian menggebu dan perjuangan tahun 1979-1980 itu tidak ada bekasnya. Kami, para calon apoteker “TIDAK BERANI” menjadi bos di rumah kami sendiri.

Ruang diskusi itu mendadak hening sebentar. Memang tidak kami pungkiri, demikianlah adanya. Kami lebih suka bermain aman, kurang berani menghadapi risiko. Kami lebih suka dipekerjakan, di industri farmasi, di rumah sakit, menjadi PNS, atau menjadi APA dan APING di apotek milik orang lain (yang bukan apoteker). Kami masih bermental pekerja, belum bermental wirausaha.

Sebuah pertanyaan coba kusampaikan: “Ketakutan kami terhadap kompetitor-kompetitor yang sudah menggurita, katakanlah apotek K24. Bagaimana kami bisa mengatasinya?”

Kata beliau, janganlah takut pada pemilik modal besar. Kita pun masih bisa mengusahakan, misalnya saja seperti WIPA, apotek ini didirikan bukan milik perseorangan, tetapi kerjasama dari beberapa orang apoteker. Asalkan kami mampu membuat studi kelayakan yang bagus, memiliki jaringan yang luas, insyaallah modal bukan sebuah halangan. Yang patut dikhawatirkan, kata beliau, “Apabila dokter sudah mulai membuat apotek sendiri.”😆

Ah, miris memang. Di Indonesia ini sungguh kedudukan apoteker masih sangat lemah. Masih saja bersembunyi (maaf) di bawah ketiak dokter. Kesannya apoteker itu tak bisa apa-apa kalau tidak ada dokter. Padahal di belahan dunia yang lain, peran farmasis sudah sangat jelas. Bukan lagi drug oriented, tetapi patient oriented. Apoteker bukan bawahan dokter, tetapi kami adalah partner dalam satu tim, healthcare professional. Tak sekedar manusia-manusia pembaca resep dan memindahkan obat ke dalam plastik.

Yah, ini perjuangan yang mau tidak mau harus dibebankan di pundak kami. Kalaulah memang mengehendaki perubahan bagi profesi kami ke depannya, maka haruslah kami mulai dari diri sendiri.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Cukup banyak hal yang patut direnungkan, terutama bagi diriku sendiri. Mungkin terbersit keinginan untuk bekerja di pelayanan, punya apotek sendiri. Tapi rasanya masih tertutupi dengan ambisi untuk mengejar prestige, masih ingin bekerja di perusahaan farmasi yang bonafid dulu, baru kepikiran untuk buka apotek. Sekali lagi, ini alasan klise. Tapi memang demikian adanya.:mrgreen:

Mantrigawen Lor, Yogyakarta

14 thoughts on “WIPA; Potret Kejayaan yang Mulai Terlupakan

  1. Aih, Aih, saya baru sekarang dengar kedudukan apoteker di hadapan dokter. Ternyata begitu ya. Bu Endang itu cocok sekali jadi farmapreneurship, memotivasi para apoteker agar bikin apoteknya sendiri:mrgreen:

    1. Banyak yang gak tau mas, karena memang sistem dan kenyataan di Indonesia masih jauh dari idealita. Jadi, saya pun maklum klo selama ini apoteker selalu “gak dianggap”.
      Sebenarnya hal tersebut sudah tertuang dalam Eight Star Pharmacist yang digaungkan oleh WHO, bahwa salah satu peran seorang apoteker adalah sebagai entrepreneur. Tinggal merealisasikan saja😀

  2. Sepakat dan sependapat dengan kalimat ini …Apoteker bukan bawahan dokter, tetapi kami adalah partner dalam satu tim, healthcare professional. Tak sekedar manusia-manusia pembaca resep dan memindahkan obat ke dalam plastik….
    Ayo, tetap dan terus semangat!

  3. Benar itu. Modal seperti uang, keahlian, pengalaman, link dll meski sangat perlu, ‘hukumnya’ tidak wajib—karena toh kalau perlu kita bisa minta, pinjam, ngutang, beli (menggaji orang) dsb. Hanya satu modal yang mutlak harus punya sendiri: mental.

    Toh bukan berarti mesti mulai dengan grusa-grusu. Cari jam terbang buat lebih ‘kenal lapangan’ jelas perlu (misalnya dengan cara kerja di tempat orang lain). Tapi jangan juga nunggu sampai semuanya perfect ya (it will never happen).

    PS: saya bukan orang farmasi ataupun dokter, di sini cuma numpang nyembur saja.😀

  4. Ngumpulin uang dan pengalaman dulu aja mbak buat modal, hehe…

    Btw, saya punya teman yg punya apotek, dan dia masih muda. Apoteknya ada di pasar, lumayan kecil, dan bangunannya biasa aja, nggak sebagus K24. Terakhir ketemu beberapa bulan yg lalu, dia udah punya dua apotek. Rupanya usahanya lumayan berkembang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s