Inspirasi

Remember Me: Secarik Kertas di Dinding Kos

taken from http://www.skyhdwallpaper.com

Lima puluh empat menit menjelang tengah malam. Di luar sesekali masih terdengar desau angin laut, diselingi gerimis ritmis yang (semoga) membawa doa-doa keberkahan pada setiap bulirnya. Mataku masih enggan terpejam. Walaupun esok pagi-pagi sekali harus menelusuri tapak demi tapak perjalanan tugas bernama: Puskesmas Mergangsan. Ruang sempit di bawah gedung berwarna hijau yang penuh dengan bau obat-obatan.

Ditemani segelas teh manis yang mulai dingin, jemariku masih terlalu sibuk dengan tuts keyboard laptop. Terlalu penasaran dengan materi Poisoning, Alcohol Dependence & Abuse. Salah satu tema yang membuatku cukup berpikir keras dalam menyelesaikan soal simulasi try out UKAI beberapa hari yang lalu.

Malam dan kegairahan.

Entah mengapa suasana malam selalu menjadi moment paling berharga untuk berpikir, merenung, dan memahami sesuatu. Terkadang malam begitu menggairahkan untuk merajut kembali untaian benang-benang mimpi yang mulai pudar dimakan kesibukan dan keserakahan realita.

Tetiba di benakku terlintas sebuah ingatan. Tentang analogi cerdik seorang Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers.

“The tallest oak in the forest is the tallest not just because it grew from the hardiest acorn; it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep and rich, no rabbit chewed through its bark as a sapling, and no lumberjack cut it down before it matured. We all know that successful people come from hardy seeds. But do we know enough about the sunlight that warmed them, the soil in which they put down the roots, and the rabbits and lumberjacks they were lucky enough to avoid? This is not a book about tall trees. It’s a book about forests.”

Yah, begitu dalam.

Seperti ada yang menari-nari di pelupuk mataku. Sungguh ini bukan halusinasi maupun delusi. Tetapi aku dipaksa untuk kembali mengingat secarik kertas di dinding kamar kos, beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih jungkir balik dalam kejenuhan menyelesaikan draft skripsi dulu.

Secarik kertas yang hanya berisi beberapa kata dari tumpahan tinta printer yang kini teronggok tak berdaya di rak kedua lemari kayu. Beberapa kata saja, tentang mimpi yang dahulu banyak ditertawakan orang. Terlebih mereka, teman-teman kuliah yang sempat singgah menyambangi kamar kosku.

Kalau mengingat saat itu, tepat kiranya secarik kertas itu menjadi bahan tertawaan. Tapi teman, sungguh aku tidak main-main dengan janjiku pada diriku sendiri. Mungkin perlahan, dan kau bilang sangat terlambat. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mundur sejengkal pun. Dan lihatlah kini, apa yang tertulis di sana tinggal sedikit lagi akan berhasil kugenggam.

Perjuangan memang belum berakhir. Barangkali ini justru sebuah awal dari pertempuran yang sesungguhnya. Karena semakin lama persaingan ini justru semakin seru. Taukah kau, aku mendapatkan lawan yang sepadan. Dia yang tak pernah terlihat olehku ternyata cukup tangguh, cukup hebat, cukup layak untuk dipertimbangkan. Kadang ada sebersit kekhawatiran, aku tak siap menerima kekalahan.

Tapi justru kekhawatiran itulah yang kubutuhkan. Agar aku tak terlena. Agar aku selalu waspada. Agar aku semakin gigih berjuang. Sungguh waktu itu semakin dekat. Waktu dimana akan kutemukan jawaban dari pertanyaanmu. Tentang apa yang tertulis di secarik kertas itu.

Ini bukan sekedar pembuktian. Untukmu. Tapi ini adalah masa depan. Untukku.

Selamat berjuang untuk menjemput kemenangan!!!

#random #night

[Pesisir Pantai Selatan, 11.50 pm]

3 thoughts on “Remember Me: Secarik Kertas di Dinding Kos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s