Uncategorized

(Bukan) Vegetarian

taken from http://www.radiodfm.com

Akhir pekan yang menyenangkan. Ya, cukup menyenangkan dengan cuaca mendungnya yang membuatku semakin malas untuk beranjak ke kamar mandi. Juga menyenangkan karena hari ini aku benar-benar bisa merasakan akhir pekan tanpa tekanan, internshipku sudah resmi berakhir kemarin. Hanya perlu menyelesaikan laporan dan mungkin kembali jalan-jalan ke Solo untuk mengurus beberapa hal yang terlupakan selama 1,5 bulan ini.

Sarapanku baru saja kuhabiskan beberapa menit yang lalu. Menikmati nasi yang mengepul panas dengan sayur berkuah yang menyegarkan dan gigitan-gigitan ikan goreng yang gurih. Hmmm, sedapnya. Tapi rasanya belum lengkap tanpa segelas besar vitamin C rasa lemon yang membuat lidahku tergelitik mencicipi letupan-letupan kecil CO2 yang dilepaskan dari serbuk effervescent itu.

Ngomong-ngomong soal sarapan pagi ini, tiba-tiba aku kepikiran untuk menuliskan tentang kebiasaanku yang satu itu. Banyak orang mengira aku seorang vegetarian. Mereka yang mungkin pernah tinggal bersama denganku di kontrakan mahasiswa maupun di kos saat internship, juga mereka yang mungkin pernah bepergian denganku dan kebetulan singgah sebentar di rumah makan selalu bertanya:

“Kenapa dagingnya gak dimakan?”

Jawabanku singkat saja, andaikan mereka mencukupkan diri hanya bertanya seperti itu.

“Karena aku gak bisa makan daging.”

Sayangnya, mereka kemudian akan mengganti topik bahasan di meja makan dengan menginterogasiku. Kenapa gak suka makan daging, apakah semua jenis daging ataukah hanya daging hewan tertentu, sejak kapan gak makan daging, bagaimana dengan bakso dan sosis, apakah aku vegetarian, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang pada akhirnya kututup dengan sebuah pernyataan.

“Itu semacam sugesti saja. Bukan berarti aku gak bisa makan daging, aku hanya merasa tidak suka makan daging. Pernah suatu ketika aku tidak sadar sedang memakan martabak berisi daging sapi, terlanjur habis dua potong. Tapi tak ada yang terjadi. Tubuhku tidak bereaksi apapun, tidak gatal, tidak muntah, tidak sakit. Biasa saja. Jadi, kupikir ini bukan sebuah alergi atau apapun.”

Lalu mereka akan semakin penasaran kenapa bisa seperti itu, dan selanjutnya aku akan bercerita dengan senang hati bahwa waktu kecil aku pernah ketakutan saat melihat kambing disembelih yang berdarah-darah dan merasa sangat kasihan pada si kambing. Kalau tidak salah ingat, waktu itu aku sempat menangis kencang dan menyembunyikan wajahku ke pelukan ibu. Dan sejak saat itu aku tidak mau makan daging, tak hanya daging kambing, tapi juga daging sapi, ayam, bebek, unggas, dan semua daging merah yang berasal dari hewan-hewan yang hidup di darat dan disembelih.

“Aku bukan vegetarian. Hmm, mungkin saja semi vegetarian.”

Lain halnya dengan sea food. Aku adalah fans berat udang dan kepiting. Hampir semua makanan laut aku bisa makan. Udang asam manis, udang goreng tepung, udang bakar madu, kepiting kuah kuning, kepiting saus tiram, aahhh berhentilah menuliskan nama-nama masakan favorit itu sebelum aku kehabisan akal. Haha.

Selain sea food, aku juga suka makan telur. Bahkan jika aku di rumah, ibuku tidak pernah lupa untuk mengisi kulkas dengan telur ayam biar aku bisa memasak makanan sendiri dan gak nyari jajajan di luar. Ya, telur memang serba guna. Bisa dibikin telur dadar, telur rebus, omelet, telur urik, mie kuah telur, omurice, dan sebagainya.

Satu lagi produk hewani yang bisa kumakan, yaitu susu. Tapi karena aku gak terlalu tahan bau amisnya, seringkali susu segar dan susu putih akan kutolak. Aku lebih suka susu yang sudah diolah dan diberi flavour tertentu, misalnya susu coklat, yogurt, susu fermentasi, dan keju.

Ya begitulah, sekali lagi aku bukan seorang vegetarian. Dan mohon maaf bagi kalian yang sering kerepotan saat mengajakku makan karena harus menyesuaikan dengan seleraku. Aku gak bisa sembarangan mampir ke warung bakso ataupun mie ayam kegemaran kalian. Maaf juga kalau sering tidak sopan menolak undangan makan-makan sahabat blogger yang kutahu sebelumnya bahwa menu utama adalah ayam bakar. Ribet kan kalau aku datang dan sudah terlanjur dipesankan ayam bakar, tapi aku malah pesan menu sendiri ikan bakar. Hehe.

Lain kali kalau ada undangan makan-makan, ajaklah aku ke warung sea food. Pasti gak akan kutolak.😆

Ah, sudahlah. Tulisan ini jadi teramat panjang. Tadinya cuma mau sedikit meluruskan pernyataan beberapa teman yang sering mengira aku seorang vegetarian atau bahkan yang paling kejam ada yang mengatakan bahwa aku terlalu pilih-pilih makanan. Tidak, bukan seperti itu.

Yang penting aku tetap sehat hingga sekarang, gak pernah kurang gizi meskipun badanku selalu kurus. Tak apalah gak bisa makan daging, yang penting BMI (body mass index) 18,9 masih ideal kalau menurut standar WHO. Fufufu!😀

6 thoughts on “(Bukan) Vegetarian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s