Farmasi · Obat

Keracunan Parasetamol dan Antidotnya

taken from http://www.fotografturk.com

Siapa yang tidak mengenal parasetamol? Saya yakin pembaca sudah cukup familiar dengan obat yang satu ini. Parasetamol dijual sebagai obat bebas untuk mengatasi demam, pusing, nyeri karena sifat antipiretik dan analgesiknya. Parasetamol bisa dibeli dalam bentuk tunggal maupun kombinasi yang sering kita jumpai misalnya pada obat-obat flu.

Meskipun parasetamol termasuk dalam kategori obat yang paling aman, tetapi penggunaan dalam jumlah besar bisa menimbulkan risiko hepatotoksik. Apa itu hepatotoksik? Hmm, mungkin lebih mudah dipahami jika saya menyebutnya dengan keracunan atau kerusakan hati. Bukan rusak patah hati karena pacarnya diambil orang loh ya…. Ups😆

Hari ini saya akan menulis sedikit tentang keracunan parasetamol. Kebetulan saya ingat bahwa bahasan ini keluar dalam soal TO Uji Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) yang pernah saya ikuti beberapa bulan lalu. Selain itu, saya teringat pertanyaan dari seorang pasien di Puskesmas Mergangsan yang mengkonfirmasi anjuran rekan internship saya agar pasien tersebut menghentikan pemakaian parasetamol saat pusing dan demamnya sudah sembuh.

Pasien: Jadi, parasetamolnya gak usah diminum sampai habis ya Mbak?
Teman saya: Kalau sudah tidak pusing dan tidak demam, parasetamolnya gak usah diminum.
Pasien: Kenapa? Kalau tetap diminum menyebabkan apa?
Teman saya: Hmm, hatinya bisa rusak Pak. (bingung milih kata-kata yang tepat)
Pasien: (antara bengong, bingung, merasa aneh dengan jawaban teman saya)

😆😆😆

Ternyata apoteker pun harus belajar memilih diksi yang tepat untuk berkomunikasi dengan pasiennya ya?!

Mengenal Gejala Keracunan Parasetamol

Seseorang akan mengalami sejumlah gejala seperti mual, muntah, rasa tidak nyaman pada perut beberapa jam setelah mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar, baik karena ketidaksengajaan atau memang disengaja. Hepatotoksik akut terjadi jika orang dewasa mengkonsumsi lebih dari 7,5 gram parasetamol (sekitar 15 butir) atau ketika anak-anak mengkonsumsi lebih dari 150 mg/kg BB dalam waktu 8 jam atau kurang. Sejumlah kematian dilaporkan pernah terjadi setelah orang dewasa mengkonsumsi parasetamol sebanyak 10 gram.

Mekanisme Toksisitas Parasetamol

Parasetamol dimetabolisme terutama di hati menjadi konjugat glukoronida dan sulfat, kemudian diekskresikan melalui urin dengan sejumlah kecil (kurang dari 5%) obat yang tidak berubah (unchanged drug). Sekitar 5% dosis terapi dimetabolisme oleh enzim CYP2E1 pada sitokrom P450 menghasilkan metabolit reaktif N-acetyl-p-benzoquinone-imine atau lebih dikenal dengan NAPQI. Pada keadaan normal, NAPQI ini dikonjugasi oleh enzim glutation yang mengandung gugus sulfhidril di hati dan dieksresikan melalui urin sebagai konjugat merkapturat yang tidak toksik.

Pada kondisi overdosis akut, ketersediaan enzim glutation di hati tidak mencukupi untuk mendetoksi metabolit reaktif NAPQI sehingga bereaksi dengan sel-sel hati yang mengandung gugus sulfhidril lain seperti sitosol, dinding sel, dan reticulum endoplasma menyebabkan nekrosis atau kematian sel-sel hati. Pada kasus hepatotoksik parah, gagal ginjal mungkin saja terjadi.

taken from en.wikipedia.org

Antidot Spesifik Keracunan Parasetamol

Saya tidak akan membahas mengenai tata laksana keracunan karena akan terlalu panjang. Terapi keracunan akut parasetamol berbeda-beda tergantung pada jumlah obat yang dikonsumsi, jangka waktu setelah konsumsi obat, dan konsentrasi parasetamol dalam serum.

Antidot spesifik keracunan parasetamol adalah N-acetylcystein (juga terdapat dalam obat batuk). N-acetylcystein yang mengandung gugus sulfhidril mengisi ulang cadangan enzim glutation dalam hati yang akan berikatan dengan NAPQI atau menyediakan sumber sulfat sehingga mencegah kerusakan hati. Pemberian N-acetylcystein dilakukan dalam waktu tidak lebih dari 10 jam setelah konsumsi parasetamol agar hasilnya efektif. Dosis peroral N-acetylcystein dengan loading dose 140 mg/kg BB diikuti 70 mg/kg BB tiap 4 jam untuk 17 kali dosis dengan total durasi terapi 72 jam.

Uah, lumayan panjang tulisan kali ini. Hari Minggu baca buku Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach-nya Dipiro sambil nulis di blog itu berasa seperti pegawai kantoran yang lagi lembur. Harusnya kan baca novel ya, bukannya baca text book. Hihi.😀

8 thoughts on “Keracunan Parasetamol dan Antidotnya

  1. Bahasa kimia dalam prosesnya ngjelimet y mbak…. Kirain cuma butuh ngapalin obat sama harga doank (-_-“)

    Kalo para setamol bukkan untuk minggirin kottoran di daraah supaya jalan Darah lancar ya heehee

    1. Ngjelimet ya mas, hehe… maaf deh belum bisa menemukan bahasa yang sederhana dan tepat untuk menuliskannya.
      Bukan mas, parasetamol itu analgetik-antipiretik. Barangkali yang mas Eko maksud adalah aspirin, dalam dosis tertentu dia bisa digunakan untuk antiplatelet.

      ups, ngjelimet lagi deh..:mrgreen:

  2. Makasih mbak, kebetulan tugas kampus materinya penanganan buat keracunan PCT, jdi sangat membantu 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s