Uncategorized

m e r d e k a

Tujuh belas Agustus tahun ’45. Itulah hari kemerdekaan kita.

Hei, apa kabar, Kamu? Sudah merdeka? Atau masih merasa terjajah? Terjajah oleh kegalauan mungkin?! Ahelah, penulis gak usah curcol gitu lah.

Oke, semoga semua yang baca tulisan ini sudah merdeka. Merdeka dalam hal apa saja, termasuk merdeka dari penjajahan ‘gak bisa move on dari mantan’. Gubrak! 😅

Stop! Stop!

Mari kita sudahi preambule yang gak penting ini. Kasih selamat dulu lah ya buat si empunya blog yang malam ini lagi “waras” buat nulis lagi. Uhukk 😲

Merdeka. 
Menurut kamu apa sih artinya? Bebas dari penjajahan? Bebas mengungkapkan pendapat? Bebas dari skripsi yang gak kelar-kelar? Bebas dari pertanyaan ‘kapan nikah’? Atau bebas dari kenangan akan mantan? Apapun lah, pertanyaannya juga ‘menurut kamu’, jadi ya suka-suka kamu sih jawabnya. 

Merdeka. 

Merdeka tahun ini bagi saya pribadi sih yang paling penting adalah merdeka secara finansial. Yah, tau sendiri tahun kemarin masih megap-megap cari biaya profesi apoteker, masih nyadong sama emak pula buat beli bensin. Alhamdulillah, tahun ini sudah bisa membiayai hidup sendiri, bisa nabung, bisa kasih dikit-dikitlah buat emak di kampung.

Merdeka.

Merdeka di dunia kerja bagi saya artinya prestasi yang diapresiasi. Apresiasi itu macem-macem bentuknya, misal pendapat kamu didengar sama atasan, ide kamu diakui oleh rekan kerja, kinerjamu dihargai dengan naiknya gaji, bahkan waktumu gak mengikat lagi. Bagian yang terakhir itu maksud saya adalah bisa pulang “teng go“. Ahahaha. 

Jangan salah, “teng go” itu adalah salah satu bukti bahwa kamu sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan overtime dan loyalitas yang konon katanya tanpa batas itu. Beh, rasional dikit lah, kalau kita kerja di perusahaan swasta, terminologi “loyalitas tanpa batas” itu namanya bohong banget nget nget. 

Hargai dirimu sendiri, hidup kita gak cuma untuk kerja. Kerja memang ibadah, tapi ibadah bukan hanya dengan bekerja. Tetep, sisihkan waktu untuk keluarga juga untuk diri sendiri. 

Teng go” itu gak selalu buruk kok. Bahkan bagi saya pribadi, seseorang yang bisa pulang “teng go” tapi pekerjaannya tidak terhambat itu justru patut diacungi jempol. Itu artinya, dia mampu mengelola waktu kerjanya dengan efektif dan efisien. Jam kerja untuk bekerja, jam istirahat untuk istirahat, jam pulang untuk pulang. 

Makanya, jangan banyak nge-gosip saat jam kerja. Jangan banyak haha hihi ngomongin yang gak penting. Ntar begitu bel pulang bunyi baru ribut nyelesein kerjaannya, ngeluh karena harus lembur. Kos berantakan karena pulang-pulang udah tepar. Badan capek karena kerja sehari 12 jam. Itu tandanya hidupnya gak berkualitas. 

Jam kerja ya serius kerja. Bercanda boleh, sekedarnya. Ngobrol boleh juga, tapi jangan kebablasan. Kerjaan hari ini ya selesaikan sampai bel pulang. Itu baru namanya kerja cerdas, kerja tuntas. 

Itu yang namanya merdeka. Merdeka dari ketidakmampuan mengelola waktu. Setuju? Kalau setuju, mari sama-sama memperbaiki kualitas pribadi dalam manajemen waktu. Biar hidupmu gak sia-sia. Biar kelak gak bingung kalau Allah tanya, untuk apa saja waktumu selama hidup di dunia?

Salam merah putih. Merdeka!

.:Tanah Baru, 18 Agustus 2016:.

3 thoughts on “m e r d e k a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s