Uncategorized

a n a k p a n a h

.: pekan pertama bulan tujuh

Angkat busurmu dan lepaskan anak panah itu.

Hai, sudah berapa lama kamu mati rasa? Kamu. Iya, kamu. Sudah berbilang bulan bahkan tahun hidupmu tak lagi bermakna. Mana semangat itu? Mana kegigihan itu? Hilang kemana sinar matamu yang berkilat-kilat ketika mengejar sesuatu? 

Semua hilang ketika hatimu bilang: “sudah tak ada lagi yang kukejar”. 

Cih. Kamu memang manusia bodoh. Mengajari hatimu untuk berhenti sama saja dengan mati pelan-pelan. Kau bagaikan raga tanpa jiwa, tinggal menunggu kapan dia; malaikat maut, menjemputmu. 

Ah, kamu memang manusia biasa. Kesibukan kota telah merenggut masa mudamu. Kamu cuma gila kerja, pulang larut, badan remuk, dan tak lagi bisa menikmati betapa bahagianya kebebasan. Tak ada lagi yang kau kejar, maka hidupmu hanya soal menunggu. Menunggu. Menunggu. 

Pu…

Sejujurnya, aku hanya ingin melihat sinar matamu yang dulu. Yang berbinar ketika menjelaskan elusidasi struktur senyawa kimia. Ketika adek kelasmu datang menghiba, “Mbak, aku melanjutkan penelitianmu. Bu L**i menyarankan untuk tanya padamu.”

Sejujurnya, aku hanya ingin melihat sinar matamu yang dulu. Yang berbinar ketika membuka email beasiswa. Lalu kau rajin mengumpulkan jurnal dan membacanya lewat laptop bulukmu. Aku masih ingat warna hijau tua itu. 

Sejujurnya, aku hanya ingin melihat sinar matamu yang dulu. Yang berbinar ketika mendengar hasil penelitianmu dipublikasikan di jurnal internasional, meskipun hanya open access, semua orang bisa mengunduh dan membacanya.

Kapan? Kapan aku bisa melihat sinar matamu itu lagi? Jangan pernah bilang tak ada lagi yang kau kejar. Teruslah berlari. Kejarlah ia yang sanggup kau kejar. Jangan berhenti. Bahkan ketika napasmu tinggal satu-satu. 

Mungkin hidupmu tak lagi sama seperti dulu. Realistis tapi tetaplah optimis. Kalau kau memutuskan untuk bekerja, tekuni pekerjaanmu. Computerized system validation? Itu yang kau inginkan dari dulu. Selamilah.

Ayo kembali mengakrabi buku-buku. Itu buku bertumpuk-tumpuk di kamar kos, jangan biarkan dihinggapi debu. Bukankah dulu kau selalu bilang sehari musti baca 100 halaman? Tak masalah bahkan jika buku itu hanya novel, bukan karya bermutu. Yang penting konsisten; 100 halaman.

Sibukkan waktu-waktu luangmu dengan aktivitas yang bermanfaat. Pelajari lagi grammar bahasa Inggrismu, jogging dan latihan panahan jangan lupa. Makan makanan yang bergizi, agar kuat fisikmu. Tholabul ‘ilmi, kajian keislaman jangan ditinggalkan. Seimbangkan nutrisi otak, badan, dan hatimu. 

Angkat busurmu, lalu lepaskan anak panah itu! Teruslah berlari, jangan berhenti. Aku merindukan sinar matamu yang seperti dulu. 

21:00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s