Minimalist

Tinggal hitungan hari, tahun 2018 akan berakhir. Dan seperti ritual akhir tahun yang biasa saya lakukan di bulan Desember, malam tadi saya merenungi, mengevaluasi, dan menata hidup saya kembali. Terus terang tahun ini saya lewati tanpa perencanaan sama sekali, mengalir saja kemana arah angin membawa.

Ternyata itu salah besar, Kawan. Hidup tanpa perencanaan itu tidak akan membawamu kemana-mana. Stagnasi. Ya, begini-begini saja. Saya putuskan untuk memulai kembali rutinitas yang pernah saya jalani semasa kuliah, membuat resolusi untuk tahun depan, 2019.

Berawal dari kekacauan hidup saya sepanjang tahun ini, saya setting goals untuk tahun depan. Mulai dari yang paling terencana hingga yang paling absurd, dimana saya sendiri tidak tau harus memulai dari mana. Ada 9 goals untuk tahun 2019, tentu saya tidak akan share di sini karena you know, itu privasi. Haha. Tapi ada highlight yang mau saya bagi di sini.

Pertama, minimalist life.

Tahun depan saya akan belajar untuk hidup minimalist. Ini terinspirasi dari gaya hidup Fumio Sasaki dengan bukunya Goodbye Things (want to read) serta Marie Kondo dengan bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up (currently reading).

Tapi bukan itu satu-satunya alasan. Alasan utama justru karena kekacauan hidup saya tadi, terlalu banyak barang di kamar kos saya yang cuma 5×3 meter-an (sudah termasuk kamar mandi dalam). Buku-buku, sepatu, pakaian, peralatan dapur, kompor listrik, perlengkapan tidur, dan sebagainya membuat saya stress tiap hari. Meskipun ditata dan dirapikan saat weekend, dua hari setelahnya sudah berantakan lagi. Terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk bersih-bersih dan beresin kamar. What a life!

Jadi akan saya mulai dengan memilah-milah barang-barang di kamar, mana yang benar-benar saya butuhkan dan mana yang sesungguhnya tidak saya butuhkan. Ada 13 pasang sepatu di kamar saya, untuk apa sebenarnya? Toh kaki saya hanya dua dan dari 13 itu hanya beberapa saja yang rutin saya pakai, selebihnya jarang sekali saya pakai bahkan ada yang sepanjang tahun ini sama sekali tidak pernah saya pakai. Mungkin saya hanya butuh 4 pasang atau 5 pasang maksimal; sepatu resmi untuk ke kantor, sepatu olahraga, sepatu kasual untuk main, sepatu cantik untuk kondangan, dan sepatu super nyaman untuk kegiatan sehari-hari. Cukup kan? Ngapain harus ada tiga belas? Huh.

Buku. Saya tidak punya rak khusus buku di kamar, sehingga buku-buku yang saya beli sepanjang tahun ini hanya menumpuk begitu saja di sudut kamar. Ini mulai menyakitkan dipandang mata. Tahun depan saya akan beralih ke buku-buku digital, mungkin saya akan mulai berlangganan Gramedia Digital, Bookslife, Kindle, Wattpad, Storial, atau S-Lime bawaannya Samsung. Apa pun itu, sekarang sudah banyak aplikasi digital untuk membaca buku. Hmm, mungkin masih akan membeli beberapa buku fisik, tapi tidak akan sebanyak buku fisik yang saya beli tahun ini (hasil kalap di Big Bad Wolf dan Islamic Book Fair). Feeling guilty.

Ah, iya. Saya juga sudah membersihkan HP saya dari aplikasi-aplikasi seperti Shope*, Bukala*ak, Toko*edia, dll. Sorry to say, aplikasi semacam itu memang memudahkan kita belanja di era online shop seperti ini, juga menawarkan banyak iming-iming diskon, tapi sangat-sangat mendorong pola konsumerisme. Jadi, kalau di obrolan makan siang kantor saya roaming saat kalian ngomongin diskonan, tolong dimaklumi yah. Saya bukan golongan pemburu diskon. Wkwk.

Bukan berarti saya clean dari belanja online loh, please jangan mencibir dulu. Saya hanya akan belajar mengurangi membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak terlalu saya perlukan. Sesekali saya masih belanja online kok, lihat aja catatan penerima paket di divisi GA kantor, pasti ada beberapa nama saya. Hehe.

Kedua, Improve My English Skill.

Ini PR banget. Saya selalu merasa tidak percaya diri ketika didelegasikan kantor untuk ikut serta dalam seminar maupun workshop dimana narasumbernya selalu come from abroad. Merasa bego banget kalau hanya datang, duduk, dengerin, makan snack, pulang. Kamu ngapain sih, Pu? Kalau cuma kayak gitu anak SD juga bisa.

Speak up, please!

Terus terang saya admire banget sama seseorang yang saya temui unexpectedly dalam suatu workshop kefarmasian. Backgroundnya bukan industri farmasi, tapi dia PD aja ngomong cas-cis-cus di sepanjang diskusi. Yang meskipun saya tau apa yang dia omongin itu gak terlalu dalem soal farmasinya, tapi salut. Salut banget sama kemampuan bahasa Inggrisnya yang udah kayak makanan sehari-hari. Maafkan kalau sepanjang acara saya hanya melongo terkesima dengan mas-mas yang satu itu. Duh, gagal fokus kan.

Saya punya komitmen untuk belajar bahasa Inggris lagi secara rutin di akhir pekan. Jika mengikuti English Class tidak memungkinkan, saya bisa ikut kelas secara online seperti English Class 101 dengan native speaker. Semoga bisa menambah kemampuan listening dan speaking saya. Huhu. Telat banget kan umur segini masih pusing kalau diajak ngobrol pakai Bahasa Inggris. Bocah ngapa ya?

OK, cukup dua itu saja goals 2019 yang saya share di sini. Gak ada tendensi apa pun, cuma mau bilang kalau kalian perlu underline bahwa hidup tanpa perencanaan itu sangat-sangat merugikan, guys. Jangan seperti saya yang pengennya ngalir gitu aja malah tenggelam terbawa arus beneran. Usia itu karunia dari Allah, sudah sepantasnya kita tidak menyia-nyiakannya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berguna.

Welcome, tagline 2019 saya…

Strive to a brighter life.

Cikarang Utara, 16 Desember

8 thoughts on “Minimalist

  1. wow 13! 😀

    titin 5 itu udh 1 sendal jepit buat kemanamana termasuk liputan ahaha
    1 sendal gunung
    1 sneakers
    1 slip on
    1 sepatu teplek buat sehari2

    samaa. udh berbulan bulan ini juga nyingkirin baju yg jarang dipake, jilbab, trus bagi2in tas yg g kepake. dan mau ngardusin buku yg bejibun. belum tega ngasih kalo ini 😀

    jd pengennya kamarnya lapang. etapi pros foto banyaak dan pabalatak ding –‘

    😀

    • Iya kan, ngapain ada 13 coba. Jarang dipake pula. Kemarin udah nyingkirin 3 pasang. 😀

      Kamar saya udah mulai lapang, beberapa udah dibuangin termasuk peralatan makan. Segala barang pecah belah udah disingkirin. Tapi mau lihat konsistensinya dulu, apakah seminggu kemudian akan berantakan lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s