Urban Farming Purwakarta

Rumah Petani ala Eropa
Rumah Petani ala Eropa

Tiga minggu yang lalu, akhirnya rencana kami tak lagi sekedar wacana. Jadi ceritanya sudah berbulan-bulan lalu adek saya chat di WA, kasih tau kalau di Purwakarta ada tempat wisata baru yang instagramable. Tapi berhubung jadwal libur kerja kami yang gak pernah matched, rencana kami untuk ke sana hilang ditelan kesibukan masing-masing.

Hingga tahun berganti menjadi 2019, dan pas banget moment-nya dia cuti sementara saya libur, berangkatlah saya ke kos-an dia di daerah Sadang. Nagih janji buat main ke Urban Farming yang terus terang sangat menggiurkan bagi saya yang hobi foto-foto bunga.

Flower Boy
Flower Boy

Berangkat dari Cikarang pukul delapan pagi, sampai kos adek sekitar pukul sepuluh kurang dikit. Nungguin dia mandi, trus nyari sarapan, akhirnya pukul sebelas siang pas matahari terik-teriknya baru tancap gas naik motor menuju lokasi.

13 menit

Ya, perjalanan kami hanya 13 menit saja dari kos adek saya menuju lokasi Urban Farming. Beruntung lokasinya dekat, bayangkan kalau lebih dari setengah jam berada di boncengan motor adek saya yang you know model motor cowok jaman now, bisa pegel ini punggung gak bisa duduk tegak.

And here we go….

Selamat pagi, dunia :)
Selamat pagi, dunia 🙂

Urban Farming Center Purwakarta. Sebuah wisata edukatif yang lumayan menarik bagi kami, anak rantau yang rindu pulang kampung halaman. Kenapa begitu? Karena tempatnya terlalu mirip dengan kampung kami, sawah-sawah, ladang sayur, ayam, bebek, angsa, semua ada di sini.

Dari pintu masuk, loket benih ada di sebelah kiri. Hanya 15 ribu saja per orang dan kita akan mendapatkan sebungkus benih yang boleh request mau bibit apa. Saya pilih bibit tomat, biar bisa ditanam di kos-an. Siapa tau kelak berbuah, saya tinggal petik kalau mau bikin sambel. Kata Mamang yang jaga di loket sih, ini sekalian membantu perusahaan untuk memasarkan benihnya. Benih-benih yang tersedia di sini merupakan hasil produksi PT. East West Seed Indonesia. Bagi yang pengen bawa pulang untuk bercocok tanam di rumah, di bagian dalem nanti ada toko souvenir yang juga menjual benih yang lebih banyak pilihannya.

Dari Sebuah Sudut
Dari Sebuah Sudut

Begitu masuk kami disambut oleh hijaunya dedaunan yang masyaAllah seger banget dilihat. Tanaman sayur, tanaman buah, dan bunga-bunga yang bikin tangan saya gatel untuk segera mengeluarkan HP dan mulai jeprat-jepret kanan kiri. Meski panas terik tangan gosong hingga belangnya berminggu-minggu kemudian belum pulih, tetep worthed untuk memuaskan hasrat hunting foto keren. Serius, tempatnya memang instagramable banget.

Sawah
Sawah

Ada sawah, saung, taman bunga, taman hidroponik, rumah ternak lengkap dengan kelinci yang lucu-lucu, ayam kate, bebek, angsa, kambing, dan burung-burung kecil. Miniatur rumah petani ala-ala Eropa yang penuh warna menjadi spot paling menarik di sini. Pengunjung bisa antri foto di depan rumah, bahkan ada yang bisa dimasuki untuk berfoto di dalam rumah seolah-olah sedang membuka jendela.

Rumah Ternak
Rumah Ternak

Ada musholla yang cukup bersih di lokasi, jadi kalau mau sholat gak perlu keluar. Toilet juga tersedia tidak jauh dari musholla. Kalau yang hendak mengisi perut, ada kantin yang cukup luas. Tapi kami gak mampir ke kantin karena sebelumnya kami sudah sarapan. Kami cuma mampir ke tempat minum di dekat toko souvenir, nyari minuman dingin sambil duduk di bawah pohon menikmati pemandangan taman bunga di depan.

Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Hanya dengan 15 ribu saja kami sudah cukup mengobati kerinduan akan kampung halaman. Sambil bercengkerama menikmati quality time bersama adek tercinta (kalau lagi akur sih, haha).

Sunflowers
Sunflowers

Cukup recommended bagi kalian yang kebetulan sedang piknik tipis-tipis ke Purwakarta, sejam dua jam bolehlah mampir ke sini. Meski lokasinya imut dan gak banyak yang bisa dijelajahi karena memang tempatnya belum dibuka full, masih banyak yang berupa lahan kosong belum ditanami, tapi cukup memuaskan buat hunting foto. Nanti pulangnya bisa sekalian mampir ke sate maranggi Hj. Yetty Cibungur. Nah, sempurna kan.

Pacar Air
Pacar Air

Purwakarta; meski saya tidak pernah tinggal di sana, tetapi tempat ini akan punya tempat tersendiri di hati. Suasana siang riuhnya, malam romantisnya, dan gerimis ritmisnya membawa cerita yang beraneka warna sejak pertamakali saya menginjakkan kaki di sini.

Nunut Ngeyup
Nunut Ngeyup

Purwakarta, 17 Februari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s