Kaleidoskop

Books
Books

Firstly, saya mau mengucapkan selamat untuk diri sendiri atas pencapaiannya dalam merampungkan 2018 Reading Challenge. Yeeyy!

Bagi para pengguna Goodreads pasti tidak asing dengan istilah reading challenge dimana kita bisa menentukan target baca buku di awal tahun kemudian mengupdate secara teratur progress baca buku kita sehingga di akhir tahun akan ketahuan apakah target kita tercapai atau tidak. Tahun ini target baca buku saya alhamdulillah tercapai, meskipun tersendat-sendat di antara kesibukan kantor. Ceilah sok sibuk.

Berikut buku-buku yang sempat saya baca di tahun ini, berurutan dari yang paling terakhir dibaca:

Aroma Karsa – Dee Lestari

Buku ini saya beli di Gramedia Bekasi. Ceritanya menarik (seperti biasa karya Dee selalu menarik), bahasanya mengalir ciamik dengan kejutan-kejutan yang tak habis-habisnya bikin penasaran. Kerenlah pokoknya. Imajinasinya liar. Semacam epic berbalut romansa, supranatural tentu saja. Karya Dee selalu terselip hawa-hawa mistis. Saya tunggu karya selanjutnya, Ibu Suri.

Read More »

Minimalist

Tinggal hitungan hari, tahun 2018 akan berakhir. Dan seperti ritual akhir tahun yang biasa saya lakukan di bulan Desember, malam tadi saya merenungi, mengevaluasi, dan menata hidup saya kembali. Terus terang tahun ini saya lewati tanpa perencanaan sama sekali, mengalir saja kemana arah angin membawa.

Ternyata itu salah besar, Kawan. Hidup tanpa perencanaan itu tidak akan membawamu kemana-mana. Stagnasi. Ya, begini-begini saja. Saya putuskan untuk memulai kembali rutinitas yang pernah saya jalani semasa kuliah, membuat resolusi untuk tahun depan, 2019.

Berawal dari kekacauan hidup saya sepanjang tahun ini, saya setting goals untuk tahun depan. Mulai dari yang paling terencana hingga yang paling absurd, dimana saya sendiri tidak tau harus memulai dari mana. Ada 9 goals untuk tahun 2019, tentu saya tidak akan share di sini karena you know, itu privasi. Haha. Tapi ada highlight yang mau saya bagi di sini.

Read More »

Minus

Sudah sekian bulan. Sejak hari itu.

Di kantin saat jam makan siang kantor. Saya merasa aneh, tak bisa melihat dengan jelas siapa yang duduk di sana. Jarak 3 meja dari tempat duduk saya.

Pernah, di ruang Glumin-Omz mengikuti training teknikal dan karena datang terlambat hanya kebagian tempat duduk di ujung. Paling belakang. Tersiksa, sama sekali gak bisa baca apa yang ada di layar depan.

Tapi hal semacam itu tak selalu terjadi, hanya kadang-kadang saja. Selebihnya, mata saya masih sanggup melihat cerahnya dunia, birunya langit, dan indahnya kamu. Eh.

Satu, dua, tiga, entah keberapa kali.

Ada saat mata kiri bermasalah. Tiba-tiba muncul semacam scratches (kadang seperti benjolan) transparan di sudut mata. Tapi beberapa jam saja, nanti hilang sendiri. Begitu terus, pokoknya moody sekali dia munculnya suka-suka gak peduli apakah saya setuju dia muncul atau enggak. Anehnya, saya gak pernah bisa mengidentifikasi motif kemunculannya. Apakah dia muncul karena saya alergi sesuatu, atau dalam kondisi lelah, atau terlalu banyak berada di depan komputer? Sama sekali gak punya clue saking moody-nya dia, datang tak diundang pulang tak diantar.

Read More »

Asian Para Games 2018

Asian Para Games 2018
Sisa Semangat Asian Para Games 2018 [picture by Pu]

Sabtu kemarin.

Asian Para Games 2018 resmi ditutup dengan closing ceremony yang digelar di Stadion Madya Gelora Bung Karno. Indonesia berhasil meraih posisi ke-5 klasemen akhir perolehan medali dengan 37 medali emas, 47 medali perak, dan 51 medali perunggu. Selamat untuk para atlet yang berhasil menorehkan namanya untuk mengharumkan Indonesia.

Sabtu pekan lalu.

Saya, bersama tiga orang teman sempat menyaksikan event olah raga untuk rekan-rekan disabilitas bertajuk “The Inspiring Spirit and Energy of Asia” tersebut. Sekitar jam 10:30 siang kami berangkat dari Cikarang menuju Senayan. Rencananya hendak nonton pertandingan cabor archery, swimming, dan badminton. Sayang, karena sampai di GBK sudah siang, kami hanya kebagian tiket badminton saja.

Meskipun hanya kebagian tiket badminton, tapi semangat kami tetap sama. Masih tetap teriak-teriak di tribun, masih tetap ikut tepuk tangan keras setiap kali diteriakkan In-do-ne-sia. Karena memang tujuan awal kami (eh, saya) ke sini adalah untuk mencari semangat, mencari inspirasi, dan tak lupa refreshing juga. To be honest, saya ikutan teriak di tribun bukan hanya sebagai bentuk dukungan terhadap para atlet Indonesia, tetapi juga sebagai bentuk stress release bisa teriak dan tertawa sepuasnya. Terima kasih untuk para atlet, overhead smash kalian cukup menghibur jiwa raga saya untuk sejenak melupakan urusan kerja, urusan kantor, dan urusan percintaan (eh, pertemanan).

Read More »