Minus

Sudah sekian bulan. Sejak hari itu.

Di kantin saat jam makan siang kantor. Saya merasa aneh, tak bisa melihat dengan jelas siapa yang duduk di sana. Jarak 3 meja dari tempat duduk saya.

Pernah, di ruang Glumin-Omz mengikuti training teknikal dan karena datang terlambat hanya kebagian tempat duduk di ujung. Paling belakang. Tersiksa, sama sekali gak bisa baca apa yang ada di layar depan.

Tapi hal semacam itu tak selalu terjadi, hanya kadang-kadang saja. Selebihnya, mata saya masih sanggup melihat cerahnya dunia, birunya langit, dan indahnya kamu. Eh.

Satu, dua, tiga, entah keberapa kali.

Ada saat mata kiri bermasalah. Tiba-tiba muncul semacam scratches (kadang seperti benjolan) transparan di sudut mata. Tapi beberapa jam saja, nanti hilang sendiri. Begitu terus, pokoknya moody sekali dia munculnya suka-suka gak peduli apakah saya setuju dia muncul atau enggak. Anehnya, saya gak pernah bisa mengidentifikasi motif kemunculannya. Apakah dia muncul karena saya alergi sesuatu, atau dalam kondisi lelah, atau terlalu banyak berada di depan komputer? Sama sekali gak punya clue saking moody-nya dia, datang tak diundang pulang tak diantar.

Puncaknya kemarin, waktu nonton Asian Para Games. Saya gak mampu lihat skor yang dipampangkan dengan sedemikian besar di layar. Blurr gitu angkanya. Jadi, gak peduli berapa skornya asal penonton lain teriak saya akan ikut teriak. Kan konyol.

Karena khawatir dengan kondisi mata saya yang cenderung bertindak sesukanya, kadang nge-blur kadang jelas, hari itu saya niatkan untuk ikut periksa mata. Berhubung pagi ada sarapan bareng di Fonko lanjut belajar finance yang entahlah saya gak paham sama sekali, siangnya langsung gas buat ikut periksa mata sampai jam tiga sore. Lumayan hanya ngantor 1 jam jadinya. Hehe.

Dan hasilnya adalah … … … Biar drama dikit. Saya tetap kekeuh bilang bahwa mata saya masih normal. Tapi hasil pemeriksaan tertulis OD -0.50 OS -0.25 Cyl – yang kurang lebih artinya mata kanan saya minus setengah, mata kiri minus seperempat, tanpa silinder. Yes, masih normal kan?

Minus segitu tergolong masih kecil, sih. Selama tak begitu mengganggu ya gak masalah kalaupun tidak memakai kacamata. Tapi apa kabar dengan pekerjaan saya yang tiap hari berkutat di depan komputer selama delapan jam? You know, sejak kerjaan saya dipindah ke bagian improvement saya jarang sekali turun ke lapangan, jarang banget main ke produksi, jarang ngebelai-belai mesin. Urusannya cuma spaneng aja di depan komputer, mikir konsep CSV (Computerized System Validation). Lah, kenapa semua urusannya mesti ada kata “komputer”-nya?

Dan, usai chit chat sama sohib saya via whatsapp minta pertimbangan buat beli kacamata atau enggak, dia nyaranin buat beli aja. Dipake kalau lagi kerja di depan komputer (blue control lens) dan kalau mata lagi capek-capeknya. Haha, dia tau banget kalau saya paling males pake kacamata. Makanya, antara menyarankan untuk kebaikan biar minus saya gak nambah tapi sekaligus menjaga perasaan saya (cieeh), dia kasih win-win solution macem begitu.

Jadilah saya gadis berkacamata.

Ini hari kedua saya pakai kacamata di kantor. Tetep ya, kalau di kosan saya lepas karena geli gimana gitu ada yang nge-ganjel di telinga, trus pandangan jadi sempit juga terhalang frame. Duh, semoga gak nambah minusnya karena saya lepas pasang lepas pasang gitu. Sedih.

Malamnya saya curhat sama emak saya di kampung. Cerita kalau mata saya udah minus (meski dikit), dan biar gak nambah minusnya saya pakai kacamata. Bukannya diomelin semacam; makanya jangan baca buku sambil tiduran, jangan kebanyakan main HP sambil gelap-gelapan, jangan dekat-dekat kalau nonton TV dan seterusnya, emak saya malah tertawa kegirangan.

Apa coba katanya?

“Wis ket mbiyen aku nek duwe anak pengin anakku dadi dokter. Nganggo jas putih rapih karo kacamata. Ketok resik tur cerdas.”

Aduhh, Mak…

Apalah dayaku yang cuma buruh pabrik. Bukan dokter tapi malah jadi apoteker. Pakai seragam putih sih, tapi bukan jas. Seragam putih merah yang sering dikira karyawan Honda. Ya sudah, Mak. Besok aku cariin mantu dokter deh, yang pakai jas putih dan berkacamata. Wkwkwk.

Paragraf di atas hanya bercanda, jangan dibawa serius. 😀

Buat yang gak ngerti artinya ucapan emak, kira-kira seperti ini kalau ditranslate ke bahasa Cikarang:

“Sudah dari dulu saya kalau punya anak pengen anak saya jadi dokter. Pakai jas warna putih, rapi, dan berkacamata. Terlihat bersih dan cerdas.”

Sekian dan terima kasih mak, atas doanya. Semoga beneran dapet mantu dokter, berjas putih dan berkacamata. Eh, diketik lagi. 😉

Bekasi, Oktober hampir berlalu.

4 thoughts on “Minus

  1. Saya waktu awal berkacamata juga merasakan ketidaknyamanan karena ada yg mengganjal di telinga.. Yg paling gak nyaman itu adalah saat makan bakso… Tiba-tiba kaca mata berembun kayak lagi diatas gunung… Hehehe

    • Betul, Pak. Bagi saya yang kerja di industri farmasi, saat tidak nyaman adalah ketika harus turun ke produksi. Wajib pakai masker di kelas C dan kebayang pake masker sekaligus kacamata, tiap kali exhale kacamata ikut berembun. Blurr.

  2. kalo mau jujur”an ya mata saya kedua”nya ada minus
    tapi saya masih keukeuh gak mau pake kacamata
    ya intinya percaya aja deh sama mata
    kalo pas nyetir masih bisa lihat depan sih
    gak kabur

    • Selama tidak mengganggu, saya pikir tidak harus menggunakan kacamata sih pak. Saya memutuskan pakai karena memang cukup terganggu terutama saat harus kerja di depan computer 8 jam per hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s